Saturday, 15 August 2020

Merayakan Kemerdekaan Tanpa Khilafah

 

Oleh. M. Aminulloh RZ

Era revolusi, adalah bentuk jihad para syuhada. Membentuk satu kesatuan, yang menyatukan 17.504 pulau dengan satu wadah. Bhineka Tunggal Ika sebagai karakter keberagaman negeri ini, telah mengantarkan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan. Spirit yang terus bergelora dalam diri pejuang, demi meraih kedamaian dan ketentraman bagi anak cucunya kelak di masa depan. Kemerdekaan ini tidak lepas berkat pejuang dari kalangan Islam. Corak budaya dan identitas kultural umat Islam dalam praktik keIndonesiaan, memiliki nilai dalam membentuk nation state (negara kebangsaan). Hal ini tidak lain adalah sumbangsih Walisongo dengan cara membumikan Islam, yang seterusnya di lanjutkan melalui pendidikan pesantren. Basis inilah yang selanjutnya berkontribusi besar terwujudnya pergerakan dan perjuangan menegakkan bangsa Indonesia.

Percaturan politik kian menghimpit umat Islam di seluruh dunia pada tahun 1920-an, membuat imperium Islam Turki Utsmani runtuh, dan revolusi Turki yang dimotori oleh seorang yang berlatar belakang Nasionalis Sekuler, Mustafa Kemal Ataturk. Para ulama di Indonesia sadar betul, akan pentingnya negara kebangsaan untuk melawan kolonialisme bangsa eropa, dengan membangun jejaring dalam ketertindasan penjajah. Setelah melemahnya pusat-pusat kekuasaan, para ulama tetap menjaga tradisi pertentangan, hingga akhirnya basis perlawanan semula dari kerajaan-kerajaan Nusantara, kini bergeser ke pesantren. Hal itu disadari betul oleh kolonialis, sehingga timbul kekhawatiran dimana potensi perlawanan lokal bukan lagi dilakukan oleh kesultanan, melainkan jaringan ulama yang menyebar di pesantren-pesantren.

Prof. Azyumardi Azra dalam studinya menyebut di abad ke-17 dan ke-18, merupakan salah satu masa yang paling dinamis dalam sejarah sosial-intelektual kaum Muslim. Hal itu mendorong munculnya kesadaran politik umat Islam Indonesia, yang selanjutnya menimbulkan sebuah gerakan perlawanan kultural. Oleh MC. Ricklefs, mereka digambarkan sebagai kelompok muslim pedesaan minoritas secara politik dan sosial dalam struktur bangunan Kolonial yang mengelompok pada guru agama, dalam hal ini adalah Kiai dan sekolah-sekolah agama, atau bisa kita sebut pesantren.

Dari jejaring ulama pesantren inilah, kemudian memunculkan gagasan perhimpunan Nahdlatul Ulama. Berawal dari pembentukan kepanitiaan yang akan dikirim ke Muktamar Islam se-Dunia. Kepanitiaan ini dinamakan Komite Hijaz. Pada musyawarah ulama pertama, (31/1/26) atau bertepatan 16 rajab 1344H, berdasarkan usulan dari KH. Asnawi, menghasilkan kesepakatan pembentukan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) yang berarti “Kebangkitan Para Ulama”. Dengan restu KH. Hasyim Asy’ari, organisasi ini terbentuk untuk menampung aspirasi para ulama dalam membela kepentingan umat Islam, bukan hanya di Indonesia, akan tetapi seluruh dunia. Melalui Komite Hijaz, terbitlah sebuah surat kesepakatan dan keputusan, yang kemudian KH. Wahab Chasbullah mentransmisikan pesan tersebut kepada Raja Saud. Hal itu ditujukan untuk mencegah penghancuran makam Nabi dan keluarga Nabi, oleh Raja Saud.

Atas  kegelisahan itulah, Nahdlatul Ulama lahir sebagai bentuk respon dalam menghadapi ketertindasan umat Islam, baik oleh penjajah, maupun Raja Saud di Hijaz. Bahkan Sepionase Jepang melaporkan terkait potensi dari kalangan Islam yang cukup diperhitungkan. Atas dasar itulah, 10 orang ulama mengusulkan untuk membentuk barisan sukarela kepada Sheiko Shikikan pada tahun 1943 (13/9) untuk bersiap memberikan pengorbanan demi kemenangan. Perang Asia Timur Raya ini juga merupakan Perang Suci bagi Islam.

Melihat situasi yang dialami front pertempuran Jepang semakin terpojok, akibat beberapa wilayah telah diduduki oleh pasukan sekutu, dan bersiap untuk menyerang. Maka pada tahun 1944,  terbentuklah pasukan khusus yang bernama Hizbullah (Tentara Allah), dengan komando resolusi jihad mempertahankan kedaulatan, melalui fatwa yang disepakati para ulama disebut Jihad fi sabilillah. Seruan resolusi jiad ini sangat fenomenal dengan slogan Hubbul whatan Minal Iman (cinta Tanah Air sebagian dari iman), menjadikan semangat dan moril dari kekuatan besar ulama-santri untuk berkonfrontasi dengan sekutu pada 10 november 1945, di Surabaya. Dalam pertempuran di Surabaya, laskar-laskar jihad Hizbullah dan Sabilillah di pimpin langsung oleh ulama besar, sosok  sekaliber KH. Hasyim Asy’ari, yakni KH. Abbas Abdul Jamil, dari Buntet Pesantren Cirebon, Jawa Barat.

Simpul ulama saling terkait melintasi generasi sejak era Walisongo di Nusantara. Perjuangan terus diupayakan oleh para ulama, khususnya Nahdlatul Ulama dan Pesantren, telah menandai kerja keras untuk kemerdekaan Republik Indonesia. Dalam perjalanannya, para ulama seperti KH. Abdul Wahid Hasyim dan H. Agus Salim, memberikan kontribusi besar bagi konstruksi falsafah Negara Kesatuan Republik Indoneisia, melalui kesepakatan Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia  (BPUPKI) dalam pembentukan ideologi bangsa ini, dipetik dari saripati butir-butir piagam Madinah, yang kini kita kenal dengan Pancasila dan UUD 1945.

Hari kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini merupakan momentum bagi kita untuk melanjutkan perjuangan para pendiri bangsa. Banyak yang memprediksi Indonesia menjadi salah satu negara paling kuat di dunia. McKinsey Global Institue misalnya, memprediksi Indonesia pada tahun 2012, menyebut Indonesia menjadi negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia pada tahun 2030.

Selanjutnya, kita cukup mempertahankan, apa yang sudah diperjuangkan oleh para ulama melalui jejaring dan simpul yang sudah terbangun. Berada di posisi manakah kita saat menjemput Indonesia Emas 2045? Apa masih dalam perdebatan receh? Tidak perlu lagi bicara utopis untuk mengembalikan pada sistem khilafah. Dengan catatan ini, tentu sebagai generasi penerus berpikir, bagaimana kita memberikan kontribusi untuk sesuatu hal yang positif secara komprehensif dalam memajukan Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Dirgahayu Republik Indonesia. Hadiah fatihah senantiasa kukirimkan untukmu para Syuhada. Merayakan kemerdekaan, bukan tanda untuk berhenti berjuang, tapi tanda untuk lebih keras  berjuang dalam kehidupan. Indonesia dengan bendera merah putihnya, serta lambang Garuda Bhineka Tunggal Ika, bukan sekadar nama dan simbol, ada kenangan, cinta dan juga luka kakek, nenek, dan buyut hanya untuk kita cucu-cucunya. Di atas Tanah ini kita bertualang, dan di tanah ini pula kita akan pulang.

Friday, 14 August 2020

Goyang Dombret Hizbut Tahrir

Oleh. M. Aminulloh RZ

Kang Dadang paling kasep
Saya suka akang, suka sekali
Bang Mandor paling ganteng
Saya demen akang, demen sekali

Ayo dong bang bergoyang
Biar saya temenin
Jangan lupa sawernya
Buat tambahan saya
Makin banyak sawerannya
Makin asik goyangannya


Promosi gerakan paham Islam transnasional Hizbut Tahrir melebarkan sayapnya ke seluruh penjuru dunia, seperti lirik lagu ‘goyang dombret’ pencipta Ukat S diatas. Dengan balutan agama yang menawan dan menarik perhatian, mereka merayu targetnya mengikuti gerakan yang sesekali membuat pening kepala orang yang melihatnya. Suara yang merdu bagai burung emprit, mereka mengajak sejumlah orang berpengaruh, baik pengusaha,  cendekiawan, profesor, doktor, mahasiswa dan lainnya. Ketika sudah bersatu dalam dogma goyangan sang biduan, maka dirinya seolah amnesia bahwa ia mempunyai latar belakang sebagai pengusaha, professor, bahkan doktor yang seharusnya menunjukkan jalan yang benar.

Tidak hanya itu, bahkan mereka berani mengorbankan harga diri dan karirnya, untuk sebuah perjuangan yang dilakukan bagi para penegak khilafah tersebut. Di permukaan bisa kita lihat ketika Prof. Suteki dicopot dari jabatannya oleh rektor sebagai Ketua Prodi Magister Ilmu Hukum dan Ketua Senat Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (28/10/18). Hanya karena menjadi saksi ahli dalam sidang gugatan HTI di PTUN Jakarta dan Judicial Review di Mahkamah Konstitusi pada bulan oktober 2017. Rektor Undip menganggap Prof. Suteki telah melanggar kedisiplinan dalam Aparatur Sipil Negara (ASN) yang sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010.

Jika sudah dalam lingkaran panggung percaturan politik Hizbut Tahrir, makai ia akan khilaf, bukan khilafah. Khilaf akan kebenaran. Otak geniusnya seolah telah tercengkeram erat oleh pendendang khilafah. Maka kita perlu waspada, jangan sampai tergoda jauh ke dalam pentas mereka, sebelum orang-orang terdekat kita menegur perilaku yang jauh dari akhlak seorang Muslim. Mengapa dikatakan demikian, sebab para penegak khilafah itu tidak memiliki akhlak yang baik. Para penegak khilafah tersebut sebetulnya tidak pernah menghormati dan menghargai para pejuang, pendiri bangsa, dan para syuhada, bahwa atas perjuangan merekalah kita bisa menikmati kedamaian saat ini.

Lebih dari itu, dibalik paham transnasional seperti Hizbut Tahrir, ada dana yang digelontorkan oleh negara-negara adidaya seperti Inggris dan AS. Saweran itulah yang membuat hingga hari ini, kita bisa menyaksikan aksi mereka pada momen politik, seperti pilkada dan pilpres. Menurut profesor ekonomi, Michel Chossudovsky yang ditulis pada artikel di laman Global Research, bahwa di permukaan, Hizbut Tahrir terlibat dalam aksi unjuk rasa di Suriah pada bulan maret 2011, hingga terus berkembang menjadi konflik sampai hari ini. Selain itu, Chossudovsky juga menulis kerjasama Hizbut Tahrir dengan intelejen Inggris M16 pada bulan mei 2011. Negara adikuasa akan mendanai jika ada sebuah pemikiran yang berbeda dari mayoritas.

Hizbut Tahrir juga terlibat pada penggulingan Muammar Khadafi, memprovokasi rakyat Libya, membuat sejumlah berita bohong seperti kerjasama Khadafi dengan Inggris dan Israel. Kenyataannya mereka sendiri yang didanai Inggris untuk menghancurkan Libya, yang pada saat itu menjadi negara terkaya dengan Gross Domestic Product (GDP) tertinggi di Afrika, subsidi yang besar untuk rakyat, pendidikan dan kesehatan gratis, menjadi satu-satunya negara yang tidak memiliki hutang, tidak tersentuh World Bank dan IMF, tingkat kejahatan paling rendah di Afrika, dan menjadi negara mandiri dengan mengelola sumber daya alamnya sendiri. Bahkan sejumlah ratusan pendemo Hizbut Tahrir di Indonesia, turut menyuarakan penggulingan pemimpin Libya tersebut pada hari senin, (28/03/11) di Bundaran Hotel Indonesia, Jl. MH Thamrin, Jakarta pusat.

Kata kuncinya adalah, bagaimana caranya fenomena tersebut tidak terjadi di Indonesia. Kalau terjadi, maka akan lebih parah dari apa yang terjadi di Timur Tengah dan Libya, karena di sini negara kepulauan, dan tanda-tanda perpecahan sudah terlihat nyata. Rogoh kocek untuk disawerkan kepada kelompok penegak khilafah juga sudah siap, walau tidak akan mudah, meskipun embrio-embrio sudah banyak tumbuh, dengan berlindung pada HAM, mereka bebas melakukan gerakan-gerakan dan aksi propaganda. Pekerjaannya sederhana, yang berbeda dengan pemahaman sistem mereka (khilafah) maka dihukumi sistem kafir. Hal ini akan menimbulkan konflik sosial yang berkaitan dengan keselamatan negara.

Jika sudah demikian, mestinya Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama dimodali negara untuk membenahi hal ini, karena mereka dengan pemikiran transnasionalnya dimodali oleh asing. Supaya para ulama mengurai kebekuan teologi hitam putih mereka, menjadi moderat dan seimbang antara agama, politik dan negara. Jadi tidak usah berkamuflase anti asing, sementara masih menerima saweran dari asing.

Thursday, 13 August 2020

Syahwat Kekuasaan Penegak Khilafah

 

Oleh. M. Aminulloh RZ

Ada sebuah petuah yang penulis ingat dari Penyair besar WS. Rendra, yaitu: “Politik adalah cara merampok dunia. Politik adalah cara menggulingkan kekuasaan, untuk menikmati giliran berkuasa.” Membicarakan politik adalah perbincangan yang selalu hangat, aktual dan tajam dalam perhelatan kekuasaan. Seperti kita saksikan bersama, banyak kasus kontroversi yang dilakukan oleh kelompok Hizbut Tahrir (HT), baik dalam negeri maupun luar negeri. Seperti kasus propaganda dan aksi mereka di Suriah pada tahun 2011.  Manuver HT menimbulkan peperangan antar saudara, saat ini masih berlangsung, dan belum tentu selesai 10 tahun yang akan datang.

Begitu juga yang terjadi di Libya, berawal dari provokasi yang dilakukan oleh HT. Di negeri kita juga dipenuhi dengan aksi dan propaganda ratusan massa HTI memadati Bundaran Hotel Indonesia untuk mendukung penggulingan Muammar Khadafi, senin (28/3/11).  Dalam hal ini, HTI hanya memerankan sebagai cheerleaders, turut mempropagandakan pelengseran kekuasaan yang sedang dilakukan oleh Hizbut Tahrir di Libya. Ironisnya, HTI merayakan dengan penuh kegembiraan atas tumbangnya Khadafi. Libya hancur dan negaranya porak poranda oleh koalisi milter NATO.

Sebagaimana kita ketahui, narasi yang digaungkan oleh HTI juga seringkali berdalih dakwah. HTI dengan berbagai kamuflase nama badan atau lembaga semenjak organisasinya resmi dibubarkan oleh pemerintah pada tahun 2017 lalu. Faktanya, Hizbut Tahrir berarti Partai Pembebasan Pan-Islamis yang bertujuan membentuk Khilafah Islam, daulah Islamiyah atau negara Islam. HT bercita-cita mengembalikan dan membentuk dunia Islam ke sistem kekhalifahan terdahulu. Ilusi sistem politik Khilafah didasarkan  pasca bubarnya kekhalifahan Turki Usmani pada tahun 1924.

HTI melakukan klaim-klaim dan memproduksi hoaks di media sosial dalam propagandanya. Seperti halnya bendera hitam putih yang sering mereka kibarkan dalam sejumlah aksi. Mereka mengklaim bendera itu sebagai bendera tauhid. Kenyataannya adalah Nabi Muhammad SAW tidak pernah membuat bendera seperti yang HTI gaungkan.

Bendera HTI bertuliskan kalimat tauhid seperti ISIS, Al-Qaeda, HAMAS, Taliban, Jabhat Al-Nusra, dan Saudi Arabia. Apakah mereka juga menganggap itu bendera yang Nabi kibarkan dahulu? Tentu saja itu hanya simbol organisasi atau kelompok, klaim dan bentuk kebohongan yang sangat terlihat secara kasat mata, apalagi mereka mengaku tidak memiliki bendera, padahal sudah sangat jelas, bendera yang kita lihat pada aksi-aksi mereka, adalah bendera HTI yang sesungguhnya. Demi meraih simpati dari kalangan umat Islam, sejumlah organisasi menggunakan kalimat tauhid sebagai simbol ambisi kekuasaannya. Karena tauhid itu sebaiknya ada dalam hati dan dzikir kita. Sebuah penistaan jika itu tersimbol  dalam bendera, kaos ataupun topi penutup kepala, bagaimana jika kalimat tersebut masuk ke toilet saat kita buang air besar? Atau saat berada di lantai bawah terinjak? Tidakkah mereka terpikir dalam otaknya bahwa sedemikian dihinakannya kalimat tauhid?. Bahkan ISIS yang punya bendera tauhid, dalam aksinya melakukan pembunuhan, pembantaian sesama Muslim, dan pembongkaran makam-makam para waliyullah.

HTI yang punya bendera tauhid juga melakukan kebohongan dan klaim yang diproduksi di medsos. Misalnya pada hari minggu (2/8/20) yang lalu, dalam talk show launching film Jejak Khilafah di Nusantara, mereka berani mencatut Prof. Peter Carey, sejarawan berkebangsaan Inggris, khususnya sejarah Jawa. Ia berasal dari Emeritus Fellow Trinity College Oxford Inggris. Di dalam video tersebut, penegak khilafah memaparkan potongan wawancara menanggapi peran Pangeran Diponegoro dalam perang di Jawa dan hubungannya dengan Turki Utsmani, melalui youtube Khilafah Channel. Pihak Prof. Carey tidak terima namanya dicatut tanpa adanya pemeberitahuan dari panitia. Fakta ini diklarifikasi oleh Feureau Himawan Susanto selaku asisten Prof. Peter Carey melalui kantor berita Antara. “Pihak Panitia sama sekali tidak menghubungi Prof. Peter soal diskusi tersebut, jadi sama sekali enggak kasih penjelasan apapun soal pemakaian video wawancara tersebut untuk diskusi.”

Pada titik ini, mereka tak segan memunculkan kebohongan, memproduksi hoaks dan klaim sepihak atas dasar agama. Bahkan pencatutan tokoh akademisi untuk melegetimasi sistem politik khilafah yang mereka dengungkan. Pekerjaan mereka adalah mengikuti tingginya birahi kekuasaan, yang semakin bergejolak dalam diri kelompok penegak khilafah. Dalam isu dan momen politik apapun, mereka bercokol di dalamnya, melakukan infiltrasi dalam lembaga dan masuk dalam isu aktual, dan yang sudah usang.

Aksi penegak khilafah akan menentang siapapun yang berkuasa, sebelum akhirnya kekuasaan jatuh ke tangannya. Tidak peduli siapa Presidennya, anggota DPR atau Menteri-menteri dalam kabinet apa, mereka akan tetap bersuara dan menjadi oposisi. Suara lantang mereka menandakan ambisi menggulingkan sistem sah dan dasar negara yang sudah disepakati oleh pendiri bangsa. Gemuruh teriakannya terdengar ke seluruh penjuru negeri ini, hingga mereka tidak sadar bahwa dirinya adalah seorang pengkhianat bangsa.

Dengan demikian, inilah salah satu sebab mengapa banyak orang yang alergi terhadap politik, dianggap kotor dan menjijikkan. Padahal, politik adalah satu jalan menuju kebaikan bersama. Penulis teringat ucapan Presiden Soekarno,“Apa yang sudah disepakati secara politik, jangan pernah diperdebatkan secara estetis.”

Bung Karno mengingatkan kita semua, agar hal-hal yang sudah menjadi kesepakatan para pendiri bangsa tidak perlu diperdebatkan lagi, lebih dari itu kita harus memberikan kontribusi pada hal-hal esensial, bukan membongkar bangunan yang sudah berdiri kokoh. Pancasila adalah dasar negara, NKRI adalah kedaulatan kita bersama yang wajib kita jaga dari ancaman syahwat kekuasaan HTI. Waspadalah terhadap gerakan penegak khilafah yang sangat membahayakan ideologi Bangsa.


Monday, 10 August 2020

Felix Siauw Kampanye HTI

 

Oleh. M. Aminulloh RZ

Indonesia sedang dalam ancaman. Orang yang berideologi khilafah di Indonesia semakin merebak pasca dibubarkan tahun 2017 yang lalu. Fakta tersebut berdasarkan penelitian Setara Institut pada tahun 2019, dengan banyak ditemukannya wacana dan gerakan keagamaan yang bersifat eksklusif. Dari 10 Perguruan Tinggi Negeri yang terpapar khilafahisme ala HTI, paling menonjol di Institut Pertanian Bogor (IPB). Mahasiswa dengan faham ideologi semakin hari semakin menguat.

Pada Survei Nasional yang dilakukan oleh Lembaga Survei Cyrus Network pasca-pemilu 2019, 4,7% responden menganggap bahwa khilafah merupakan ajaran Islam, dan menyetujui Indonesia menjadi khilafah. Dalam survei tersebut juga disebutkan 13,1% responden mengungkapkan Indonesia seharusnya berlandaskan syariat Islam. Direktur Lembaga Survei Cyrus Network mengatakan: “Karena merasa Islam agama mayoritas di Indonesia.”  Di Jakarta, jumat (9/8/19).

Selain itu, data survei juga menyebutkan, mayoritas responden, sebanyak 70,3% menerima Pancasila sebagai ideologi bangsa. Responden yang tidak menjawab atau menjawab tidak tahu sebanyak 11,8%.

Tokoh populer yang seringkali mengampanyekan khilafah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), salah satunya Felix Yanwar Siauw, atau dikenal dengan Ustaz Felix Siauw. Ustaz berdarah Tionghoa-Indonesia itu dikenal sebagai pendakwah khilafah HTI setelah menjadi mualaf yang selanjutnya dipanggil Ustaz.

Ustaz Gaul yang berasal dari Palembang itu, dilahirkan oleh keluarga Katolik. Ia memeluk agama Islam dan memepelajarinya Ketika melanjutkan studinya ke IPB pada tahun 2002. Dengan modal menulis buku tentang cerita mualaf dirinya, Felix sukses dalam penjualan buku dikalangan masyarakat Indonesia. Berkat tulisan dan bukunya, Felix diundang ke berbagai daerah untuk berceramah, bahkan sampai ke luar negeri.

Mulanya, Felix hanya berbicara soal bukunya. Namun, setelah menjadi ‘Ustaz Seleb’, ia banyak bicara permasalahan umat Islam. Bahkan, politik dan pemerintahan. Tidak hanya berceramah secara tatap muka, Felix juga mengampanyekan dakwah khilafahnya melalui media sosial. Statusnya acap kali membuat gaduh dunia maya, mengandung kontroversi, dan menimbulkan provokasi hebat, sehingga ada pergesekan di antara sesama Muslim.

Felix sengaja dimunculkan untuk menjadi salah satu icon HTI sebagai Ustaz, penceramah, pembicara dan motivator, untuk menjaring generasi Muslim milenial yang awam terhadap agama, kemudian Muslim muda tersebut direkrut menjadi anggota dan simpatisan HTI.

Felix Siauw terkenal di kalangan anak muda, melalui dakwah pendekatan kekinian, ia dapat mempengaruhi Muslim milenial, walaupun terkadang bicara nyeleneh bagi orang yang memahami disiplin ilmu agama.  Bagai seorang Ulama yang alim, Ustaz ini seringkali mengeluarkan “dawuh” yang menggelitik. Seorang mualaf dengan modal keilmuan agama seadanya, jauh dari apa yang disebut Ustaz. Ustaz berarti Guru, karena seorang Guru itu menjadi percontohan, panutan, berperilaku baik dan tidak mengadu domba. Ia  kerap mengeluarkan argumen ngawur. Bahkan terkadang berfatwa, laksana mujtahid yang begitu didengarkan dan dibenarkan oleh banyak pengikut milenialnya. Apakah seorang Ustaz seperti Felix ini pantas mengadu domba sesama umat seperti itu?

                Dalam satu waktu, umpamanya ia menulis status di akun sosial media twitter: “membela nasionalisme, enggak ada dalilnya.” (29/09/12). Ini adalah salah satu contoh Ustaz pemecah belah umat. Tidak memandang bagaimana efek grassroot ketika keurukunan dikoyak seperti itu. Sejarah membuktikan, Indonesia terlepas dari penjajahan karena semangat mencintai tanah air. Kita membela  tanah air, aset kebudayaan dan ekonomi bangsa seutuhnya kita miliki untuk anak cucu dimasa depan. Dalil jihad sudah terkandung di dalamnya. Tidak ada dalil Al-Quran atau hadis pun tidak serta-merta, tidak boleh dilakukan, dalam ilmu fiqih kita mengenal kata mubah.

Organisasi HTI sudah dilarang di Indonesia, megampanyekan khilafah juga sudah terlarang. Di era digital teknologi dan informasi membuat kita harus banyak memilih dan memilah Ustaz mana yang patut kita dengar, kita contoh, dan kita jadikan panutan dalam kehidupan sehari-hari. Masih banyak Ustaz yang seumur hidupnya mempelajari ilmu agama, dengan keilmuan yang tidak diragukan, seperti Gus Ulil Abshar Abdalla, Kyai Baha’udin (Gus Baha), dan lainnya.

HTI Salah Memahami Islam

 

Oleh. M. Aminulloh RZ

Indonesia yang damai, kini dikoyak faham transnasional Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Kampanye khilafah ala HTI kerap meracuni. Agama dan nasionalisme sering dibenturkan. Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika sebagai sesuatu yang fundamental bagi negara kita, acap kali dianggap berhala oleh mereka. Fakta tersebut dibuktikan ketika hakim pengadilan tata usaha negara (PTUN) memutuskan untuk menolak gugatan HTI pada hari senin (7/5/17), terhadap keputusan pemerintah yang membubarkan, melalui peraturan pemerintah pengganti undang-undang (Perppu) organisasi masyarakat.

Menurut HTI, Penegakkan khilafah merupakan sesuatu yang wajib dilaksanakan oleh seluruh umat Islam. Menolak faham tersebut, sama dengan menentang ajaran Islam. Padahal politik kekuasaan bukan disisi akidah yang fundamental bagi agama, seperti rukun Islam, syahadat, salat, puasa, zakat dan haji. Jika memang khilafah yang digaungkan oleh HTI adalah sesuatu yang harus dilaksanakan oleh umat Islam, lalu mengapa organisasi masyarakat Islam terbesar, organisasi yang mendirikan negeri ini, seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, justru tidak membuat sistem khilafah? Bahkan menyebut NKRI harga mati dan Pancasila sebagai bentuk final dalam kehidupan berbangsa dan bernegara?

Dalam Alquran, tidak ada satu ayat pun yang menyebut Khalifah sistem pemerintahan. Prof. Nadirsyah menegaskan dalam webnya nadirhosen.net bahwa hanya dua kali Alquran menggunakan istilah khalifah, ditujukan kepada Nabi Adam, dan Nabi Dawud. Pertama, dalam QS. 2:30 “Ingatlah Ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan  seorang khalifah di muka bumi.” Konteks ayat tersebut adalah Nabi Adam as. Beserta keturunannya merupakan pemimpin di muka bumi.

Yang kedua, menyebut istilah Khalifah untuk Nabi Dawud: “Hai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (pemimpin) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) diantara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah…” (QS. 38:26). Dalam ayat tersebut, Allah menegaskan bahwa Nabi Dawud adalah seorang Raja Bani Israil, dan memerintahkannya untuk menyelesaikan persoalan dengan adil.

            Sampai di sini, tidak ada satu kalimatpun dalam Alquran membicarakan mengenai Khalifah sebagai sistem pemerintahan. Setelah wafatnya Rasulullah SAW. Sayyidina Abu Bakar menggantikan, dan kemudian disebut Khalifatur Rasul (Pengganti Rasul), Sayyidina Umar disebut Khalifatu Khalifatir Rasul (pengganti dari penggantinya Rasul). Sayyidina Umar merasa aneh dengan penyebutan tersebut, karena suatu saat nanti penggantinya akan lebih panjang penyebutannya, maka beliau mengganti dengan sebutan Amirul Mu’minin (pemimpin orang-orang beriman), begitu juga Sayyidina Usman dan Sayyidina Ali disebut sama, Amirul Mu’minin.

            Tradisi penyebutan tersebut diteruskan oleh Bani Umayyah sampai Bani Abbasiyah. Pada masa kepemimpinan Abbasiyah ketiga, istilah Khalifah penerus Rasul, mulai berbeda pemahaman menjadi Khalifatullah fil ardh (pemimpin Allah di muka bumi). Istilah tersebut, jelas tidak ada dalam Alquran, bahkan penyebutannya terkesan politis dalam memperkuat posisi kekuasaan.

            Pada titik ini, sudah jelas istilah khilafah adalah bentuk atau sistem pemerintahan, dan Khalifah sebagai pemimpinnya. Pada tahun 1924, sistem pemerintahan dalam bentuk khilafah telah bubar, berganti menjadi sistem pemerintahan seperti sekarang ini, nation state. Negara dan Bangsa. Sedangkan Khalifah sebagai istilah pemimpin, masih kita terapkan hingga saat ini. Karena pada dasarnya, Alquran menyebut istilah Khalifah sebagai pemimpin umat atau pemimpin masyarakat. Ulama klasik pun menafsirkan demikian, seperti Imam al Mawardi dalam kitabnya al-Ahkam as-Shulthaniyah mengungkapkan sepakat dalam kewajiban mengangkat pemimpin umat berdasarkan ijma’ (konsensus atau kesepakatan). Sitemnya seperti apa tidak dijelaskan secara detil. Hal itu tentu sistem yang kita jalankan saat ini adalah sistem yang sudah tepat, sebab istilah Khalifah dalam tafsir hari ini adalah bisa disebut Raja atau Sultan, Presiden dan Perdana Menteri, atau penyebutan lainnya. Sama halnya Allah menyebut Khalifah pada Nabi Dawud, sebagai Raja Bani Israil.

Jikalau HTI benar-benar menjalankan konsistensi dalam perjuangan khilafah sesuai dengan yang mereka kampanyekan, ajaran Islam, maka tentu tidak mengajukan gugatan kepada PTUN. Karena sistem yang ada saat ini adalah sistem yang tidak sesuai dengan ajaran mereka. Dengan mengikuti sistem peradilan, artinya mereka juga terjebak dalam sistem Pancasila dan demokrasi. Disinilah letak inkonsistensi mereka.

            Dengan demikian, mengampanyekan khilafah, berarti hendak menghapus ideologi Pancasila, kemudian diganti sistem khilafah. Inilah yang perlu kita difahami dan tegaskan. Menolak faham khilafah versi HTI, tidak membuat kita berdosa. Tidak turut serta dalam menyuarakan perjuangan khilafah, tidak berarti kita tidak mengikuti ajaran Islam. NKRI terbentuk atas perjuangan para Ulama dan Syuhada. Dengan bentuk hari ini, kita menyatakan NKRI, Pancasila, dan Bhineka Tunggal Ika sudah final.

Teringat quote Habib Luthfi Bin Yahya tentang cinta tanah air adalah wujud rasa syukur: “Karena kami cinta Allah dan RasulNya, kami mencintai tanah air ini. Mencintai tanah air adalah sebagian wujud terimakasih kami kepada Allah dan RasulNya.” Sebagai anak cucu pejuang kemerdekaan Indonesia, yang mengorbankan jiwa dan raganya demi tanah air kita, maka kita harus tetap merawat dengan sebaik-sebaiknya, agar anak cucu kita nanti tidak dalam ancaman perpecahan dan tetap di bumi pertiwi yang damai. Semoga Allah SWT. Melimpahkan rahmat pada Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Saturday, 8 August 2020

Kadrun Membela Yang Bayar?

 

Oleh. M. Aminulloh RZ

Pada bulan Maret, tahun 1993, Soeharto terpilih kembali menjadi Presiden untuk masa jabatan yang keenam. Ia kemudian bersekutu dan memberi bantuan pada kaum militan Islam, termasuk Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Salah satu tokohnya yang terkenal pada saat itu adalah Sri Bintang Pamungkas.

Melalui ICMI, Presiden Soeharto berhasil mengkooptasi banyak dari mereka yang secara keras mengkritiknya, dan lewat ICMI juga banyak merebut simpati dari seluruh umat Islam. Mungkin hanya Gus Dur, tokoh Islam yang mencoba menghalangi usahanya untuk merebut hati umat Islam. Tidak lama dari situ, pada tahun 1995, Amien Rais yang menjadi anggota ICMI membuat pernyataan Subversif hingga Presiden Soeharto marah. Amien Rais dianggap Muslim modernis yang selalu mendukung rezim, kini berbalik menyerang rezim Orde Baru.

Jadi, pada dekade terakhir rezim orde baru, Cendana menggunakan kekuatan politiknya melalui kelompok Islam garis keras untuk menghambat sistem yang akan berubah pada saat itu, yakni demokrasi. Mengapa demikian? Karena jika demokrasi ini berjalan dengan baik, maka Cendanalah yang paling bertanggungjawab atas segala ‘kejahatan’ di negeri ini.  Dan bagi kelompok Islam militan,  ideologi mereka jadi tidak laku lagi di pasaran. Meski pada akhirnya demokrasi tetap terjadi hingga hari ini.

Saat rezim Orde Baru, apapun yang berbau PKI, komunisme, dan sosialisme akan dihabisi. Siapapun yang mengkritik Soeharto dengan keras, maka akan dianggap sebagai antek PKI. Soeharto membranding dirinya sebagai role model Pancasilais. Siapapun yang bertentangan dengan dirinya, maka sudah tentu dianggap agen yang akan membangkitkan PKI.

Dari situlah, jika kita tengok Kembali beberapa tahun ke belakang, maka kelompok Islam garis keras selalu mewarnai event-event politik. Seperti tidak ada aktivitas lain untuk membangun negeri. Kelompok tersebut selalu ikut andil dalam perpolitikan di Indonesia, baik pilkada maupun pilpres.

Tentu saja, Islam mengajarkan untuk juga terlibat dalam politik kekuasaan, tapi tidak selalu melulu ‘petantang-petenteng’ saat pilkada atau pilpres. Melalui media, isu lama selalu digulirkan, seperti isu PKI, isu agama, dan etnis tertentu. Hal ini mengindikasikan kedekatan dan nostalgia antara kelompok Cendana dengan kelompok Islam garis keras.

Saya kira, kelompok Islam garis keras tersebut, jika memiliki kekuatan militer dan sokongan logistik yang cukup, maka kudeta bisa terjadi. Terutama aksi pada tahun 2017. Isu agama yang dimainkan berhasil menarik simpati kalangan umat Islam, hingga menjadi buah bibir di seluruh masyarakat Indonesia, dan hampir menimbulkan perpecahan.

Setiap aksi, bahkan isu yang dimainkan oleh kelompok garis keras tersebut, pasti ada teknis lapangan dan logistik yang disiapkan oleh yang berkepentingan. Sebab tidak mungkin mengerahkan masa dan isu sedemikian rupa pada zaman sekarang ini, tanpa ada yang membayar. Setiap gerakan yang mereka lakukan, tidak akan jauh dari kepentingan politik kekuasaan. Tentu yang berkepentingan itulah mencoba bersekutu dengan ormas Islam militan, untuk melakukan sebuah gerakan tertentu. Begitu banyak aksi massa dilakukan dengan agenda yang terkesah aneh. Pertanyaannya, dari mana mereka mendapatkan logistik itu?

Maka dari itu, kita jangan sampai terkecoh dengan gerakan mereka, provokasi, propaganda, dan isu-isu yang sebetulnya sudah sering dimainkan mereka, ayat agama, PKI dan lainnya. Buatlah gerakan produktif untuk membangun Indonesia ke depan, bukan memperuncing, memecah belah dengan bayaran yang murah. Apalagi menjual ayat-ayat Tuhan untuk kepentingan kecil saja, soal pilkada. Tidakkah mereka takut pada Tuhan Yang Maha Esa! 


Belajar Dari Suriah

 

Oleh. M. Aminulloh RZ

                Hancurnya kerajaan Malaka oleh Portugis, tidak lain adalah akibat propaganda. Seperti dikutip dalam buku A History Of Modern Indonesia Since (2008) karya MC Ricklefs, bahwa diakhir abad ke-15, saat bangsa eropa mengalami keterpurukan, mereka mencari rempah-rempah ke wilayah Nusantara. Portugis ingin menguasai perdagangan di laut Asia yang pada saat itu Malaka adalah wilayah paling masyhur.

                Akibat adu domba Portugis, terjadilah pertikaian antara Sultan Mahmud dengan putranya  Sultan Ahmad. Pada saat itulah terjadi pergolakan yang sangat dahsyat hingga akhirnya Malaka berhasil ditaklukkan Portugis.

                Suriah adalah negeri yang indah dan sarat akan sejarah. Tahun 661, Suriah dengan ibu kota Damaskus menjadi pusat peradaban Islam oleh Kekhalifahan Bani Umayyah. Beberapa hadis Nabi juga menyebut negeri Syam tersebut adalah negeri yang diberkahi. Partai Ba’ath beraliran sosialis menjadi pelopor revolusi Arab pun lahir di negeri ini. Masyarakat di negara ini juga terkenal harmonis dan majemuk di tengah perbedaan agama monoteis besar Yudaisme, Kristen dan Islam. Mayoritas penduduk Suriah menganut Islam Sunni.

                Lebih dari 5000 tahun, Suriah menjadi pusat perdagangan yang menghubungkan Asia ke Afrika dan Eropa. Karena itulah, Suriah menjadi daya tarik penakluk seperti Mesir, Romawi, Yunani, Turki, Arab, bahkan Mongol.

                Perang yang terjadi di Negara Suriah selama bertahun-tahun belakangan ini, tidak lepas dari menjamurnya propaganda, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Yang paling menonjol adalah melalui media sosial twitter dan facebook. Ada kelompok pro pemerintahan Bashar al-Assad, dan ada kelompok pemberontak seperti Tentara Pembebasan Suriah, dalam bahasa Inggris disebut Free Syrian Army (FSA), yang didukung oleh Koalisi Nasional untuk Revolusi Suriah . Ada Iran dan Rusia di belakang pemerintah, dan ada Amerika Serikat di balik pergolakan oposisi.

                Beberapa kelompok teroris sempalan Al Qaeda juga bercokol di sana, seperti ISIS (Islamic State Of Iraq and Syria), Jaish al-Islam dan Jabhat al-Nusra. Kelompok ini semakin memperburuk keadaan yang terjadi di negeri Syam tersebut.

                Konflik di Suriah menimbulkan banyak kehancuran, karena begitu kompleks sampai melibatkan banyak negara. Ditambah lagi faksi yang terlibat dalam perang, seperti pemberontak dan teroris, maka hukum Internasional pun sulit untuk menetralisir. Ratusan ribu warga Suriah menjadi korban pembunuhan, dan satu juta lebih luka-luka.

                 Faktor paling utama dari konflik di Suriah tidak jauh dari kepentingan ekonomi dan politik. Seringkali konflik tersebut disalahasumsikan oleh beberapa kelompok di Indonesia adalah perseteruan antara muslim Sunni dan Syi’ah. Mengapa demikian? Karena jika tahu kenyataannya, maka, beberapa kelompok di Indonesia tersebut, tidak akan mendukung pemberontak, kelompok teroris, Amerika Serikat, Saudi Arabia dan sekutunya. Kenyataannya, konflik tersebut berawal dari Bashar al-Assad menolak proposal pembangunan pipa gas alam dari Arab ke Eropa melalui Suriah, maka rezim Bashar al-Assad harus digulingkan.

                Beberapa media di Indonesia pun mempropagandakan kekerasan, pengungsian dari Suriah ke Eropa, penderitaan rakyat dan penghancuran kota-kota di Suriah, akan tetapi sebetulnya tidak pernah menyoroti akar dari konflik yang terjadi, yakni politik dan ekonomi.

                Jika kita cermati, konflik yang terjadi di Indonesia pun tidak jauh dari propaganda dan adu domba dengan akar kepentingan yang sama. Politik kekuasaan dan ekonomi. Pengguliran isu sektarian dan agama menjadi isu yang paling ampuh. Saya meyakini, ada strategi-strategi khusus yang dilakukan oleh beberapa kelompok di Indonesia untuk menjadikan negara kita tercinta ini seperti Suriah.

                Sebelum itu semua terjadi, mari kita kuatkan persatuan dan kesatuan diantara kita, mewaspadai berita bohong yang beredar, tidak mudah diprovokasi dan senantiasa berdoa untuk keselamatan Negara Indonesia. Kita perlu belajar dari Suriah, dan jangan sampai negeri ini menjadi seperti Suriah yang hancur berkeping-keping.