Oleh. M. Aminulloh RZ
Pada bulan Maret, tahun 1993,
Soeharto terpilih kembali menjadi Presiden untuk masa jabatan yang keenam. Ia
kemudian bersekutu dan memberi bantuan pada kaum militan Islam, termasuk Ikatan
Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Salah satu tokohnya yang terkenal pada
saat itu adalah Sri Bintang Pamungkas.
Melalui ICMI, Presiden
Soeharto berhasil mengkooptasi banyak dari mereka yang secara keras
mengkritiknya, dan lewat ICMI juga banyak merebut simpati dari seluruh umat
Islam. Mungkin hanya Gus Dur, tokoh Islam yang mencoba menghalangi usahanya
untuk merebut hati umat Islam. Tidak lama dari situ, pada tahun 1995, Amien
Rais yang menjadi anggota ICMI membuat pernyataan Subversif hingga Presiden
Soeharto marah. Amien Rais dianggap Muslim modernis yang selalu mendukung
rezim, kini berbalik menyerang rezim Orde Baru.
Jadi, pada dekade terakhir
rezim orde baru, Cendana menggunakan kekuatan politiknya melalui kelompok Islam
garis keras untuk menghambat sistem yang akan berubah pada saat itu, yakni
demokrasi. Mengapa demikian? Karena jika demokrasi ini berjalan dengan baik,
maka Cendanalah yang paling bertanggungjawab atas segala ‘kejahatan’ di negeri
ini. Dan bagi kelompok Islam
militan, ideologi mereka jadi tidak laku
lagi di pasaran. Meski pada akhirnya demokrasi tetap terjadi hingga hari ini.
Saat rezim Orde Baru, apapun
yang berbau PKI, komunisme, dan sosialisme akan dihabisi. Siapapun yang
mengkritik Soeharto dengan keras, maka akan dianggap sebagai antek PKI.
Soeharto membranding dirinya sebagai role model Pancasilais. Siapapun
yang bertentangan dengan dirinya, maka sudah tentu dianggap agen yang akan
membangkitkan PKI.
Dari situlah, jika kita tengok
Kembali beberapa tahun ke belakang, maka kelompok Islam garis keras selalu
mewarnai event-event politik. Seperti tidak ada aktivitas lain untuk
membangun negeri. Kelompok tersebut selalu ikut andil dalam perpolitikan di
Indonesia, baik pilkada maupun pilpres.
Tentu saja, Islam mengajarkan
untuk juga terlibat dalam politik kekuasaan, tapi tidak selalu melulu ‘petantang-petenteng’
saat pilkada atau pilpres. Melalui media, isu lama selalu digulirkan, seperti isu
PKI, isu agama, dan etnis tertentu. Hal ini mengindikasikan kedekatan dan
nostalgia antara kelompok Cendana dengan kelompok Islam garis keras.
Saya kira, kelompok Islam
garis keras tersebut, jika memiliki kekuatan militer dan sokongan logistik yang
cukup, maka kudeta bisa terjadi. Terutama aksi pada tahun 2017. Isu agama yang
dimainkan berhasil menarik simpati kalangan umat Islam, hingga menjadi buah
bibir di seluruh masyarakat Indonesia, dan hampir menimbulkan perpecahan.
Setiap aksi, bahkan isu yang
dimainkan oleh kelompok garis keras tersebut, pasti ada teknis lapangan dan
logistik yang disiapkan oleh yang berkepentingan. Sebab tidak mungkin
mengerahkan masa dan isu sedemikian rupa pada zaman sekarang ini, tanpa ada
yang membayar. Setiap gerakan yang mereka lakukan, tidak akan jauh dari
kepentingan politik kekuasaan. Tentu yang berkepentingan itulah mencoba
bersekutu dengan ormas Islam militan, untuk melakukan sebuah gerakan tertentu.
Begitu banyak aksi massa dilakukan dengan agenda yang terkesah aneh.
Pertanyaannya, dari mana mereka mendapatkan logistik itu?
Maka dari itu, kita jangan
sampai terkecoh dengan gerakan mereka, provokasi, propaganda, dan isu-isu yang
sebetulnya sudah sering dimainkan mereka, ayat agama, PKI dan lainnya. Buatlah
gerakan produktif untuk membangun Indonesia ke depan, bukan memperuncing, memecah
belah dengan bayaran yang murah. Apalagi menjual ayat-ayat Tuhan untuk
kepentingan kecil saja, soal pilkada. Tidakkah mereka takut pada Tuhan Yang
Maha Esa!

No comments:
Post a Comment