Oleh. M.
Aminulloh RZ
Ada sebuah petuah yang penulis ingat dari Penyair besar WS. Rendra, yaitu: “Politik adalah cara merampok dunia. Politik adalah cara
menggulingkan kekuasaan, untuk menikmati giliran berkuasa.” Membicarakan
politik adalah perbincangan yang selalu hangat, aktual dan tajam dalam
perhelatan kekuasaan. Seperti kita saksikan bersama, banyak kasus kontroversi
yang dilakukan oleh kelompok Hizbut Tahrir (HT), baik dalam negeri maupun luar negeri. Seperti kasus propaganda
dan aksi mereka di Suriah pada tahun 2011. Manuver HT menimbulkan peperangan antar saudara, saat ini masih berlangsung, dan belum tentu selesai 10
tahun yang akan datang.
Begitu juga yang terjadi di Libya, berawal dari
provokasi yang dilakukan oleh HT. Di negeri kita juga dipenuhi dengan aksi dan propaganda ratusan massa
HTI memadati Bundaran Hotel Indonesia untuk mendukung penggulingan Muammar
Khadafi, senin (28/3/11). Dalam hal ini,
HTI hanya memerankan sebagai cheerleaders, turut
mempropagandakan pelengseran kekuasaan yang sedang dilakukan oleh Hizbut Tahrir di Libya. Ironisnya, HTI merayakan dengan penuh
kegembiraan atas tumbangnya Khadafi. Libya hancur dan
negaranya porak poranda oleh koalisi milter NATO.
Sebagaimana kita ketahui, narasi yang digaungkan oleh HTI juga
seringkali berdalih dakwah. HTI dengan berbagai kamuflase nama badan atau lembaga semenjak organisasinya resmi
dibubarkan oleh pemerintah pada tahun 2017 lalu. Faktanya, Hizbut Tahrir
berarti Partai Pembebasan Pan-Islamis yang bertujuan membentuk Khilafah Islam,
daulah Islamiyah atau negara Islam. HT bercita-cita mengembalikan dan membentuk dunia Islam ke sistem kekhalifahan terdahulu. Ilusi sistem politik Khilafah didasarkan pasca bubarnya kekhalifahan Turki Usmani pada
tahun 1924.
HTI melakukan klaim-klaim dan memproduksi hoaks di media sosial dalam
propagandanya. Seperti halnya bendera hitam putih yang sering mereka kibarkan
dalam sejumlah aksi. Mereka mengklaim bendera itu sebagai
bendera tauhid. Kenyataannya adalah Nabi Muhammad SAW tidak pernah membuat
bendera seperti yang HTI gaungkan.
Bendera HTI bertuliskan kalimat tauhid seperti
ISIS, Al-Qaeda, HAMAS, Taliban, Jabhat Al-Nusra, dan Saudi Arabia. Apakah mereka juga menganggap itu bendera yang Nabi kibarkan
dahulu? Tentu saja itu hanya simbol organisasi
atau kelompok, klaim dan bentuk kebohongan yang sangat terlihat secara kasat
mata, apalagi mereka mengaku tidak memiliki
bendera, padahal sudah sangat jelas, bendera yang kita lihat pada aksi-aksi
mereka, adalah bendera HTI yang sesungguhnya. Demi
meraih simpati dari kalangan umat Islam, sejumlah organisasi menggunakan
kalimat tauhid sebagai simbol ambisi kekuasaannya. Karena tauhid itu sebaiknya
ada dalam hati dan dzikir kita. Sebuah penistaan jika itu tersimbol
dalam bendera, kaos ataupun topi penutup kepala, bagaimana jika kalimat
tersebut masuk ke toilet saat kita buang air besar? Atau saat berada di lantai
bawah terinjak? Tidakkah mereka terpikir dalam otaknya bahwa sedemikian dihinakannya kalimat tauhid?. Bahkan ISIS yang punya bendera tauhid, dalam aksinya melakukan
pembunuhan, pembantaian sesama Muslim, dan pembongkaran makam-makam para
waliyullah.
HTI yang punya bendera tauhid juga melakukan kebohongan
dan klaim yang diproduksi di medsos. Misalnya
pada hari minggu (2/8/20) yang lalu, dalam talk
show launching film Jejak Khilafah di Nusantara, mereka berani mencatut Prof. Peter Carey, sejarawan berkebangsaan Inggris, khususnya sejarah
Jawa. Ia berasal dari Emeritus Fellow Trinity
College Oxford Inggris. Di dalam video tersebut, penegak khilafah memaparkan potongan wawancara menanggapi
peran Pangeran Diponegoro dalam perang di Jawa dan hubungannya dengan Turki
Utsmani, melalui youtube Khilafah Channel. Pihak Prof. Carey tidak terima namanya dicatut tanpa
adanya pemeberitahuan dari panitia. Fakta ini diklarifikasi oleh Feureau
Himawan Susanto selaku asisten Prof. Peter Carey
melalui kantor berita Antara. “Pihak
Panitia sama sekali tidak menghubungi Prof. Peter soal diskusi tersebut, jadi sama sekali enggak kasih
penjelasan apapun soal pemakaian video wawancara tersebut untuk diskusi.”
Pada titik ini, mereka tak segan memunculkan kebohongan, memproduksi hoaks dan klaim sepihak atas dasar agama. Bahkan pencatutan
tokoh akademisi untuk melegetimasi sistem politik khilafah yang mereka dengungkan. Pekerjaan mereka adalah mengikuti tingginya birahi
kekuasaan, yang semakin bergejolak dalam diri kelompok
penegak khilafah. Dalam isu dan momen politik apapun, mereka bercokol di
dalamnya, melakukan infiltrasi dalam lembaga dan masuk dalam isu aktual, dan yang sudah usang.
Aksi penegak khilafah akan menentang siapapun yang berkuasa, sebelum akhirnya kekuasaan
jatuh ke tangannya. Tidak
peduli siapa Presidennya, anggota DPR atau Menteri-menteri dalam kabinet apa, mereka akan tetap
bersuara dan menjadi oposisi. Suara lantang mereka menandakan ambisi
menggulingkan sistem sah dan dasar negara yang sudah
disepakati oleh pendiri bangsa. Gemuruh teriakannya terdengar ke seluruh penjuru negeri ini, hingga
mereka tidak sadar bahwa dirinya adalah seorang pengkhianat bangsa.
Dengan demikian, inilah
salah satu sebab
mengapa banyak orang yang alergi
terhadap politik, dianggap kotor dan menjijikkan. Padahal, politik adalah satu
jalan menuju kebaikan bersama. Penulis teringat ucapan Presiden Soekarno,“Apa yang sudah disepakati secara politik,
jangan pernah diperdebatkan secara estetis.”
Bung Karno mengingatkan kita semua, agar
hal-hal yang sudah menjadi kesepakatan para pendiri bangsa tidak perlu
diperdebatkan lagi, lebih dari itu kita harus memberikan kontribusi pada
hal-hal esensial, bukan membongkar bangunan yang sudah berdiri kokoh. Pancasila adalah dasar negara, NKRI adalah kedaulatan kita bersama
yang wajib kita jaga dari ancaman syahwat kekuasaan HTI. Waspadalah terhadap
gerakan penegak khilafah yang sangat membahayakan ideologi Bangsa.

No comments:
Post a Comment