Oleh.
M. Aminulloh RZ
Era revolusi, adalah bentuk jihad para syuhada.
Membentuk satu kesatuan, yang menyatukan 17.504 pulau dengan satu wadah. Bhineka
Tunggal Ika sebagai karakter keberagaman negeri ini, telah mengantarkan bangsa
Indonesia menuju kemerdekaan. Spirit yang terus bergelora dalam diri pejuang,
demi meraih kedamaian dan ketentraman bagi anak cucunya kelak di masa depan.
Kemerdekaan ini tidak lepas berkat pejuang dari kalangan Islam. Corak budaya
dan identitas kultural umat Islam dalam praktik keIndonesiaan, memiliki nilai
dalam membentuk nation state (negara
kebangsaan). Hal ini tidak lain adalah sumbangsih Walisongo dengan cara
membumikan Islam, yang seterusnya di lanjutkan melalui pendidikan pesantren.
Basis inilah yang selanjutnya berkontribusi besar terwujudnya pergerakan dan
perjuangan menegakkan bangsa Indonesia.
Percaturan politik kian menghimpit umat Islam
di seluruh dunia pada tahun 1920-an, membuat imperium Islam Turki Utsmani runtuh,
dan revolusi Turki yang dimotori oleh seorang yang berlatar belakang Nasionalis
Sekuler, Mustafa Kemal Ataturk. Para ulama di Indonesia sadar betul, akan
pentingnya negara kebangsaan untuk melawan kolonialisme bangsa eropa, dengan
membangun jejaring dalam ketertindasan penjajah. Setelah melemahnya pusat-pusat
kekuasaan, para ulama tetap menjaga tradisi pertentangan, hingga akhirnya basis
perlawanan semula dari kerajaan-kerajaan Nusantara, kini bergeser ke pesantren.
Hal itu disadari betul oleh kolonialis, sehingga timbul kekhawatiran dimana potensi
perlawanan lokal bukan lagi dilakukan oleh kesultanan, melainkan jaringan ulama
yang menyebar di pesantren-pesantren.
Prof. Azyumardi Azra dalam studinya menyebut
di abad ke-17 dan ke-18, merupakan salah satu masa yang paling dinamis dalam
sejarah sosial-intelektual kaum Muslim. Hal itu mendorong munculnya kesadaran
politik umat Islam Indonesia, yang selanjutnya menimbulkan sebuah gerakan
perlawanan kultural. Oleh MC. Ricklefs, mereka digambarkan sebagai kelompok
muslim pedesaan minoritas secara politik dan sosial dalam struktur bangunan
Kolonial yang mengelompok pada guru agama, dalam hal ini adalah Kiai dan
sekolah-sekolah agama, atau bisa kita sebut pesantren.
Dari jejaring ulama pesantren inilah, kemudian
memunculkan gagasan perhimpunan Nahdlatul Ulama. Berawal dari pembentukan kepanitiaan
yang akan dikirim ke Muktamar Islam se-Dunia. Kepanitiaan ini dinamakan Komite Hijaz. Pada musyawarah ulama
pertama, (31/1/26) atau bertepatan 16 rajab 1344H, berdasarkan usulan dari KH.
Asnawi, menghasilkan kesepakatan pembentukan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) yang berarti “Kebangkitan Para
Ulama”. Dengan restu KH. Hasyim Asy’ari, organisasi ini terbentuk untuk
menampung aspirasi para ulama dalam membela kepentingan umat Islam, bukan hanya
di Indonesia, akan tetapi seluruh dunia. Melalui Komite Hijaz, terbitlah sebuah surat kesepakatan dan keputusan,
yang kemudian KH. Wahab Chasbullah mentransmisikan pesan tersebut kepada Raja
Saud. Hal itu ditujukan untuk mencegah penghancuran makam Nabi dan keluarga
Nabi, oleh Raja Saud.
Atas
kegelisahan itulah, Nahdlatul Ulama lahir sebagai bentuk respon dalam
menghadapi ketertindasan umat Islam, baik oleh penjajah, maupun Raja Saud di
Hijaz. Bahkan Sepionase Jepang
melaporkan terkait potensi dari kalangan Islam yang cukup diperhitungkan. Atas
dasar itulah, 10 orang ulama mengusulkan untuk membentuk barisan sukarela
kepada Sheiko Shikikan pada tahun 1943 (13/9) untuk bersiap memberikan
pengorbanan demi kemenangan. Perang Asia Timur Raya ini juga merupakan Perang
Suci bagi Islam.
Melihat situasi yang dialami front pertempuran
Jepang semakin terpojok, akibat beberapa wilayah telah diduduki oleh pasukan
sekutu, dan bersiap untuk menyerang. Maka pada tahun 1944, terbentuklah pasukan khusus yang bernama Hizbullah (Tentara Allah), dengan
komando resolusi jihad mempertahankan kedaulatan, melalui fatwa yang disepakati
para ulama disebut Jihad fi sabilillah.
Seruan resolusi jiad ini sangat fenomenal dengan slogan Hubbul whatan Minal Iman (cinta Tanah Air sebagian dari iman),
menjadikan semangat dan moril dari kekuatan besar ulama-santri untuk berkonfrontasi
dengan sekutu pada 10 november 1945, di Surabaya. Dalam pertempuran di
Surabaya, laskar-laskar jihad Hizbullah
dan Sabilillah di pimpin langsung
oleh ulama besar, sosok sekaliber KH.
Hasyim Asy’ari, yakni KH. Abbas Abdul Jamil, dari Buntet Pesantren Cirebon,
Jawa Barat.
Simpul ulama saling terkait melintasi generasi
sejak era Walisongo di Nusantara. Perjuangan terus diupayakan oleh para ulama,
khususnya Nahdlatul Ulama dan Pesantren, telah menandai kerja keras untuk
kemerdekaan Republik Indonesia. Dalam perjalanannya, para ulama seperti KH.
Abdul Wahid Hasyim dan H. Agus Salim, memberikan kontribusi besar bagi konstruksi
falsafah Negara Kesatuan Republik Indoneisia, melalui kesepakatan Badan
Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dalam pembentukan ideologi bangsa ini,
dipetik dari saripati butir-butir piagam Madinah, yang kini kita kenal dengan
Pancasila dan UUD 1945.
Hari
kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini merupakan momentum bagi kita untuk
melanjutkan perjuangan para pendiri bangsa. Banyak yang memprediksi Indonesia
menjadi salah satu negara paling kuat di dunia. McKinsey Global Institue
misalnya, memprediksi Indonesia pada tahun 2012, menyebut Indonesia menjadi
negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia pada tahun 2030.
Selanjutnya, kita cukup mempertahankan, apa
yang sudah diperjuangkan oleh para ulama melalui jejaring dan simpul yang sudah
terbangun. Berada di
posisi manakah kita saat menjemput Indonesia Emas 2045? Apa masih dalam
perdebatan receh? Tidak perlu lagi bicara utopis untuk mengembalikan
pada sistem khilafah. Dengan catatan ini, tentu sebagai generasi penerus
berpikir, bagaimana kita memberikan kontribusi untuk sesuatu hal yang positif
secara komprehensif dalam memajukan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dirgahayu Republik Indonesia. Hadiah fatihah senantiasa kukirimkan untukmu
para Syuhada. Merayakan kemerdekaan, bukan tanda untuk berhenti berjuang, tapi
tanda untuk lebih keras berjuang dalam
kehidupan. Indonesia dengan bendera merah putihnya, serta lambang Garuda Bhineka
Tunggal Ika, bukan sekadar nama dan simbol, ada kenangan, cinta dan juga luka
kakek, nenek, dan buyut hanya untuk kita cucu-cucunya. Di atas Tanah ini kita
bertualang, dan di tanah ini pula kita akan pulang.

No comments:
Post a Comment