Saturday, 15 August 2020

Merayakan Kemerdekaan Tanpa Khilafah

 

Oleh. M. Aminulloh RZ

Era revolusi, adalah bentuk jihad para syuhada. Membentuk satu kesatuan, yang menyatukan 17.504 pulau dengan satu wadah. Bhineka Tunggal Ika sebagai karakter keberagaman negeri ini, telah mengantarkan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan. Spirit yang terus bergelora dalam diri pejuang, demi meraih kedamaian dan ketentraman bagi anak cucunya kelak di masa depan. Kemerdekaan ini tidak lepas berkat pejuang dari kalangan Islam. Corak budaya dan identitas kultural umat Islam dalam praktik keIndonesiaan, memiliki nilai dalam membentuk nation state (negara kebangsaan). Hal ini tidak lain adalah sumbangsih Walisongo dengan cara membumikan Islam, yang seterusnya di lanjutkan melalui pendidikan pesantren. Basis inilah yang selanjutnya berkontribusi besar terwujudnya pergerakan dan perjuangan menegakkan bangsa Indonesia.

Percaturan politik kian menghimpit umat Islam di seluruh dunia pada tahun 1920-an, membuat imperium Islam Turki Utsmani runtuh, dan revolusi Turki yang dimotori oleh seorang yang berlatar belakang Nasionalis Sekuler, Mustafa Kemal Ataturk. Para ulama di Indonesia sadar betul, akan pentingnya negara kebangsaan untuk melawan kolonialisme bangsa eropa, dengan membangun jejaring dalam ketertindasan penjajah. Setelah melemahnya pusat-pusat kekuasaan, para ulama tetap menjaga tradisi pertentangan, hingga akhirnya basis perlawanan semula dari kerajaan-kerajaan Nusantara, kini bergeser ke pesantren. Hal itu disadari betul oleh kolonialis, sehingga timbul kekhawatiran dimana potensi perlawanan lokal bukan lagi dilakukan oleh kesultanan, melainkan jaringan ulama yang menyebar di pesantren-pesantren.

Prof. Azyumardi Azra dalam studinya menyebut di abad ke-17 dan ke-18, merupakan salah satu masa yang paling dinamis dalam sejarah sosial-intelektual kaum Muslim. Hal itu mendorong munculnya kesadaran politik umat Islam Indonesia, yang selanjutnya menimbulkan sebuah gerakan perlawanan kultural. Oleh MC. Ricklefs, mereka digambarkan sebagai kelompok muslim pedesaan minoritas secara politik dan sosial dalam struktur bangunan Kolonial yang mengelompok pada guru agama, dalam hal ini adalah Kiai dan sekolah-sekolah agama, atau bisa kita sebut pesantren.

Dari jejaring ulama pesantren inilah, kemudian memunculkan gagasan perhimpunan Nahdlatul Ulama. Berawal dari pembentukan kepanitiaan yang akan dikirim ke Muktamar Islam se-Dunia. Kepanitiaan ini dinamakan Komite Hijaz. Pada musyawarah ulama pertama, (31/1/26) atau bertepatan 16 rajab 1344H, berdasarkan usulan dari KH. Asnawi, menghasilkan kesepakatan pembentukan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) yang berarti “Kebangkitan Para Ulama”. Dengan restu KH. Hasyim Asy’ari, organisasi ini terbentuk untuk menampung aspirasi para ulama dalam membela kepentingan umat Islam, bukan hanya di Indonesia, akan tetapi seluruh dunia. Melalui Komite Hijaz, terbitlah sebuah surat kesepakatan dan keputusan, yang kemudian KH. Wahab Chasbullah mentransmisikan pesan tersebut kepada Raja Saud. Hal itu ditujukan untuk mencegah penghancuran makam Nabi dan keluarga Nabi, oleh Raja Saud.

Atas  kegelisahan itulah, Nahdlatul Ulama lahir sebagai bentuk respon dalam menghadapi ketertindasan umat Islam, baik oleh penjajah, maupun Raja Saud di Hijaz. Bahkan Sepionase Jepang melaporkan terkait potensi dari kalangan Islam yang cukup diperhitungkan. Atas dasar itulah, 10 orang ulama mengusulkan untuk membentuk barisan sukarela kepada Sheiko Shikikan pada tahun 1943 (13/9) untuk bersiap memberikan pengorbanan demi kemenangan. Perang Asia Timur Raya ini juga merupakan Perang Suci bagi Islam.

Melihat situasi yang dialami front pertempuran Jepang semakin terpojok, akibat beberapa wilayah telah diduduki oleh pasukan sekutu, dan bersiap untuk menyerang. Maka pada tahun 1944,  terbentuklah pasukan khusus yang bernama Hizbullah (Tentara Allah), dengan komando resolusi jihad mempertahankan kedaulatan, melalui fatwa yang disepakati para ulama disebut Jihad fi sabilillah. Seruan resolusi jiad ini sangat fenomenal dengan slogan Hubbul whatan Minal Iman (cinta Tanah Air sebagian dari iman), menjadikan semangat dan moril dari kekuatan besar ulama-santri untuk berkonfrontasi dengan sekutu pada 10 november 1945, di Surabaya. Dalam pertempuran di Surabaya, laskar-laskar jihad Hizbullah dan Sabilillah di pimpin langsung oleh ulama besar, sosok  sekaliber KH. Hasyim Asy’ari, yakni KH. Abbas Abdul Jamil, dari Buntet Pesantren Cirebon, Jawa Barat.

Simpul ulama saling terkait melintasi generasi sejak era Walisongo di Nusantara. Perjuangan terus diupayakan oleh para ulama, khususnya Nahdlatul Ulama dan Pesantren, telah menandai kerja keras untuk kemerdekaan Republik Indonesia. Dalam perjalanannya, para ulama seperti KH. Abdul Wahid Hasyim dan H. Agus Salim, memberikan kontribusi besar bagi konstruksi falsafah Negara Kesatuan Republik Indoneisia, melalui kesepakatan Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia  (BPUPKI) dalam pembentukan ideologi bangsa ini, dipetik dari saripati butir-butir piagam Madinah, yang kini kita kenal dengan Pancasila dan UUD 1945.

Hari kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini merupakan momentum bagi kita untuk melanjutkan perjuangan para pendiri bangsa. Banyak yang memprediksi Indonesia menjadi salah satu negara paling kuat di dunia. McKinsey Global Institue misalnya, memprediksi Indonesia pada tahun 2012, menyebut Indonesia menjadi negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia pada tahun 2030.

Selanjutnya, kita cukup mempertahankan, apa yang sudah diperjuangkan oleh para ulama melalui jejaring dan simpul yang sudah terbangun. Berada di posisi manakah kita saat menjemput Indonesia Emas 2045? Apa masih dalam perdebatan receh? Tidak perlu lagi bicara utopis untuk mengembalikan pada sistem khilafah. Dengan catatan ini, tentu sebagai generasi penerus berpikir, bagaimana kita memberikan kontribusi untuk sesuatu hal yang positif secara komprehensif dalam memajukan Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Dirgahayu Republik Indonesia. Hadiah fatihah senantiasa kukirimkan untukmu para Syuhada. Merayakan kemerdekaan, bukan tanda untuk berhenti berjuang, tapi tanda untuk lebih keras  berjuang dalam kehidupan. Indonesia dengan bendera merah putihnya, serta lambang Garuda Bhineka Tunggal Ika, bukan sekadar nama dan simbol, ada kenangan, cinta dan juga luka kakek, nenek, dan buyut hanya untuk kita cucu-cucunya. Di atas Tanah ini kita bertualang, dan di tanah ini pula kita akan pulang.

No comments:

Post a Comment