Oleh. M. Aminulloh RZ
Kang Dadang
paling kasep
Saya suka akang, suka sekali
Bang Mandor paling ganteng
Saya demen akang, demen sekali
Ayo dong
bang bergoyang
Biar saya temenin
Jangan lupa sawernya
Buat tambahan saya
Makin banyak sawerannya
Makin asik goyangannya
Promosi gerakan
paham Islam transnasional Hizbut Tahrir melebarkan sayapnya ke seluruh penjuru
dunia, seperti lirik lagu ‘goyang dombret’ pencipta Ukat S diatas. Dengan
balutan agama yang menawan dan menarik perhatian, mereka merayu targetnya
mengikuti gerakan yang sesekali membuat pening kepala orang yang melihatnya. Suara
yang merdu bagai burung emprit, mereka mengajak sejumlah orang berpengaruh,
baik pengusaha, cendekiawan, profesor,
doktor, mahasiswa dan lainnya. Ketika sudah bersatu dalam dogma goyangan sang
biduan, maka dirinya seolah amnesia bahwa ia mempunyai latar belakang sebagai pengusaha,
professor, bahkan doktor yang seharusnya menunjukkan jalan yang benar.
Tidak hanya
itu, bahkan mereka berani mengorbankan harga diri dan karirnya, untuk sebuah
perjuangan yang dilakukan bagi para penegak khilafah tersebut. Di permukaan
bisa kita lihat ketika Prof. Suteki dicopot dari jabatannya oleh rektor sebagai
Ketua Prodi Magister Ilmu Hukum dan Ketua Senat Fakultas Hukum Universitas
Diponegoro (28/10/18). Hanya karena menjadi saksi ahli dalam sidang gugatan HTI
di PTUN Jakarta dan Judicial Review di Mahkamah Konstitusi pada bulan oktober
2017. Rektor Undip menganggap Prof. Suteki telah melanggar kedisiplinan dalam
Aparatur Sipil Negara (ASN) yang sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 53
Tahun 2010.
Jika sudah
dalam lingkaran panggung percaturan politik Hizbut Tahrir, makai ia akan
khilaf, bukan khilafah. Khilaf akan kebenaran. Otak geniusnya seolah telah
tercengkeram erat oleh pendendang khilafah. Maka kita perlu waspada, jangan
sampai tergoda jauh ke dalam pentas mereka, sebelum orang-orang terdekat kita
menegur perilaku yang jauh dari akhlak seorang Muslim. Mengapa dikatakan
demikian, sebab para penegak khilafah itu tidak memiliki akhlak yang baik. Para
penegak khilafah tersebut sebetulnya tidak pernah menghormati dan menghargai para
pejuang, pendiri bangsa, dan para syuhada, bahwa atas perjuangan merekalah kita
bisa menikmati kedamaian saat ini.
Lebih dari
itu, dibalik paham transnasional seperti Hizbut Tahrir, ada dana yang
digelontorkan oleh negara-negara adidaya seperti Inggris dan AS. Saweran itulah
yang membuat hingga hari ini, kita bisa menyaksikan aksi mereka pada momen
politik, seperti pilkada dan pilpres. Menurut profesor ekonomi, Michel Chossudovsky
yang ditulis pada artikel di laman Global Research, bahwa di permukaan, Hizbut
Tahrir terlibat dalam aksi unjuk rasa di Suriah pada bulan maret 2011, hingga
terus berkembang menjadi konflik sampai hari ini. Selain itu, Chossudovsky juga
menulis kerjasama Hizbut Tahrir dengan intelejen Inggris M16 pada bulan mei
2011. Negara adikuasa akan mendanai jika ada sebuah pemikiran yang berbeda dari
mayoritas.
Hizbut
Tahrir juga terlibat pada penggulingan Muammar Khadafi, memprovokasi rakyat
Libya, membuat sejumlah berita bohong seperti kerjasama Khadafi dengan Inggris
dan Israel. Kenyataannya mereka sendiri yang didanai Inggris untuk
menghancurkan Libya, yang pada saat itu menjadi negara terkaya dengan Gross
Domestic Product (GDP) tertinggi di Afrika, subsidi yang besar untuk rakyat,
pendidikan dan kesehatan gratis, menjadi satu-satunya negara yang tidak
memiliki hutang, tidak tersentuh World Bank dan IMF, tingkat kejahatan paling
rendah di Afrika, dan menjadi negara mandiri dengan mengelola sumber daya alamnya
sendiri. Bahkan sejumlah ratusan pendemo Hizbut Tahrir di Indonesia, turut
menyuarakan penggulingan pemimpin Libya tersebut pada hari senin, (28/03/11) di
Bundaran Hotel Indonesia, Jl. MH Thamrin, Jakarta pusat.
Kata
kuncinya adalah, bagaimana caranya fenomena tersebut tidak terjadi di
Indonesia. Kalau terjadi, maka akan lebih parah dari apa yang terjadi di Timur
Tengah dan Libya, karena di sini negara kepulauan, dan tanda-tanda perpecahan
sudah terlihat nyata. Rogoh kocek untuk disawerkan kepada kelompok penegak
khilafah juga sudah siap, walau tidak akan mudah, meskipun embrio-embrio sudah
banyak tumbuh, dengan berlindung pada HAM, mereka bebas melakukan
gerakan-gerakan dan aksi propaganda. Pekerjaannya sederhana, yang berbeda
dengan pemahaman sistem mereka (khilafah) maka dihukumi sistem kafir. Hal ini
akan menimbulkan konflik sosial yang berkaitan dengan keselamatan negara.
Jika sudah
demikian, mestinya Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama dimodali negara untuk
membenahi hal ini, karena mereka dengan pemikiran transnasionalnya dimodali
oleh asing. Supaya para ulama mengurai kebekuan teologi hitam putih mereka,
menjadi moderat dan seimbang antara agama, politik dan negara. Jadi tidak usah
berkamuflase anti asing, sementara masih menerima saweran dari asing.

No comments:
Post a Comment