Saturday, 22 August 2020

Catatan Merah Hizbut Tahrir

 

Oleh. M. Aminulloh

Jangan pernah bermimpi, bahwa Hizbut Tahrir akan menerima Nasionalisme. Dalam pradigma lama, sistem khilafah adalah satu imperium besar, sangat otoriter dengan otoritas penuh berada di bawah sang khalifah untuk berkuasa secara penuh, baik dalam keagamaan, maupun politik. HT berpikir, agama dan nasionalisme adalah sesuatu yang kontradiktif. Faktanya, ketika Nabi Muhammad SAW berhijrah dari Makkah menuju Madinah, saat diperbatasan, beliau bertutur: Wahai Makkah engkau adalah negeri yang paling kucintai. Seandainya pendudukmu tidak mengusir aku, aku tidak akan meninggalkan kamu (HR at-Turmudzi, nomor 3925).

Hadits di atas, menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW memiliki rasa cinta akan Tanah Airnya. Cinta Tanah Air merupakan fitrah dari lahir, yang sudah ada dalam diri manusia. Nasionalisme itu tumbuh sendiri, seharusnya! Jangan mengorbankan agama demi tujuan politik, dan jangan berpolitik dengan memanfaatkan agama.

Satu catatan merah, bahwa HT tidak pernah memahami konteks cinta Tanah Air yang sesungguhnya. Nasionalisme dianggap sistem kufur. Tentu ini berbahaya, sebab mereka tidak pernah memahami fitrah, dan justru ingin merusak cinta itu sendiri. Tidak menjadi masalah, jika hanya dia sendiri, yang jadi masalah adalah mereka mengajak orang di sekitar kita untuk menghapus rasa cinta itu dan termakan dalil-dalil olahan yang mereka kampanyekan.

Catatan selanjutnya adalah mereka tidak pernah bicara agama, hanya politik yang mereka gaungkan selama ini, sebab dalam pandangan HT, fiqih tidak perlu dipelajari, sebelum sistem khilafah tegak. Dalam catatan pengarang kitab Fiqhul Islam Wa Adilatuhu, Syekh Wahbah Zuhaili, pernah mengatakan: “Pandangan HT yang meyakini bahwa fiqih tidak perlu dipelajari atau dipraktikkan sepanjang suatu negara belum melaksanakan sistem Islam adalah sebuah kesalahan besar. Karena mengkaji atau mempelajari fiqih bukan melulu mengenai sistem pemerintahan, tapi semua aspek kehidupan umat Islam itu diatur oleh fiqih.”

Partai politik internasional yang didirikan Taqiyyuddin An Nabhani (1909-1977) ini juga menyederhanakan segala sesuatu persoalan di negeri manapun, khilafah adalah solusinya, dan juga wajib hukumnya bagi umat Islam. Namun, mereka tidak pernah memberikan jalan keluar, atau penyelesaiannya seperti apa. Kenyatannya, sistem apapun yang diterapkan dalam politik pemerintahan, tidak termasuk dalam rukun Islam, seperti shalat, puasa, zakat dan lainnya. Permasalahan sebuah bangsa adalah permasalahan kompleks dan sangat rumit. Jika mereka benar-benar menginginkan kebaikan dalam negeri, maka masuklah dalam sistem yang sudah sesuai dengan Undang-undang yang berlaku di negara tersebut, bukan mempropagandakan sesuatu yang kosong dan memperkeruh negara.

HT juga selalu menampik jika ideologinya berkaitan dengan kekerasan dan terorisme. Realitasnya, berdasakan data dari seorang peneliti Hudson Institue, Washington, Zeyon Baran. Menyebutkan bahwa HT a coveyor terrorists tentang keterlibatan sejumlah aktivis HT dalam keterlibatan terorisme di sejumlah negara. Misalnya, Seorang pemuda Lebanon berusia 21 tahun bernama Youssef Mohammed al-Hadjib didakwa melakukan percobaan pembunuhan menggunakan bom di kereta api Jerman, tepatnya berada di posisi dekat stasiun Dortmud, dan ada juga di Kereta yang bergerak menuju Koblenz, sabtu (19/8/2006). Satu minggu kemudian kawannya ditangkap bernama Fadi al-Saleh oleh pihak keamanan Jerman. Setelah diselidiki, ternyata mereka adalah sel-sel jaringan teror Hizbut Tahrir. Banyak kasus serupa di negara lain, seperti di Kyrgstan pada februari 2007, Uzbekistan pada bulan agustus 2002, Tajikistan selama tahun 2005, menangkap 99 anggota HT karena terbukti terlibat dalam jaringan terorisme.

Di Indonesia sendiri, kader dan simpatisan HT juga terlibat aksi terorisme. Bahrun Naim alias Anggih Tamtomo alias Abu Rayan adalah anggota HTI yang ditangkap oleh Datasemen Khusus 88 Antiteror Polri pada bulan November 2010, akibat kepemilikan senjata api dan bahan peledak. Naim bebas pada bulan juni 2012, Naim baiat ke ISIS pada tahun 2014 dan kemudian berangkat ke Suriah. Pada tahun agustus 2015, Naim pun diduga terlibat dalam sejumlah terror di Indonesia.  Junaidi alias Yayang alias Codet terlibat dalam bom Thamrin Jakarta, kamis (14/1/2016). Selanjutnya, M. Fachry, mantan anggota HTI yang aktif dalam situs arahmah.com dalam propaganda jaringan aksi Al-Qaeda Internasional. Fachry juga terlibat kegiatan ISIS, yakni pengiriman 16 anggota ISIS dari Indonesia ke Suriah.

Beberapa catatan merah HT, menjadi salah satu pertimbangan banyak menolak dan membubarkan, bahkan mengusir dari negaranya. Termasuk di Indonesia, yang dibubarkan secara resmi oleh pemerintah melalui Perppu Ormas pada tahun 2017 yang lalu.

Misi utama Nabi Muhammad SAW yang paling utama adalah memperbaiki akhlak, bukan mengislamkan orang lain, memaksa orang lain apalagi mengikuti ideologi politik khilafah. Mengikuti faham khilafah, bisa mengakibatkan kita dimusuhi saudara, tetangga, teman, bahkan dimusuhi negara yang kita cintai ini. Maka pada titik ini, penulis menekankan untuk mengkaji secara komprehensif gagasan politik Islam lebih dalam, untuk menunjukkan kepada dunia, bahwa Islam benar-benar rahmatan lil alamin. Membentuk pribadi yang berakhlak mulia dengan perilaku kita, pandangan negatif terhadap Islam akan sirna dengan sendirinya.

Saturday, 15 August 2020

Merayakan Kemerdekaan Tanpa Khilafah

 

Oleh. M. Aminulloh RZ

Era revolusi, adalah bentuk jihad para syuhada. Membentuk satu kesatuan, yang menyatukan 17.504 pulau dengan satu wadah. Bhineka Tunggal Ika sebagai karakter keberagaman negeri ini, telah mengantarkan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan. Spirit yang terus bergelora dalam diri pejuang, demi meraih kedamaian dan ketentraman bagi anak cucunya kelak di masa depan. Kemerdekaan ini tidak lepas berkat pejuang dari kalangan Islam. Corak budaya dan identitas kultural umat Islam dalam praktik keIndonesiaan, memiliki nilai dalam membentuk nation state (negara kebangsaan). Hal ini tidak lain adalah sumbangsih Walisongo dengan cara membumikan Islam, yang seterusnya di lanjutkan melalui pendidikan pesantren. Basis inilah yang selanjutnya berkontribusi besar terwujudnya pergerakan dan perjuangan menegakkan bangsa Indonesia.

Percaturan politik kian menghimpit umat Islam di seluruh dunia pada tahun 1920-an, membuat imperium Islam Turki Utsmani runtuh, dan revolusi Turki yang dimotori oleh seorang yang berlatar belakang Nasionalis Sekuler, Mustafa Kemal Ataturk. Para ulama di Indonesia sadar betul, akan pentingnya negara kebangsaan untuk melawan kolonialisme bangsa eropa, dengan membangun jejaring dalam ketertindasan penjajah. Setelah melemahnya pusat-pusat kekuasaan, para ulama tetap menjaga tradisi pertentangan, hingga akhirnya basis perlawanan semula dari kerajaan-kerajaan Nusantara, kini bergeser ke pesantren. Hal itu disadari betul oleh kolonialis, sehingga timbul kekhawatiran dimana potensi perlawanan lokal bukan lagi dilakukan oleh kesultanan, melainkan jaringan ulama yang menyebar di pesantren-pesantren.

Prof. Azyumardi Azra dalam studinya menyebut di abad ke-17 dan ke-18, merupakan salah satu masa yang paling dinamis dalam sejarah sosial-intelektual kaum Muslim. Hal itu mendorong munculnya kesadaran politik umat Islam Indonesia, yang selanjutnya menimbulkan sebuah gerakan perlawanan kultural. Oleh MC. Ricklefs, mereka digambarkan sebagai kelompok muslim pedesaan minoritas secara politik dan sosial dalam struktur bangunan Kolonial yang mengelompok pada guru agama, dalam hal ini adalah Kiai dan sekolah-sekolah agama, atau bisa kita sebut pesantren.

Dari jejaring ulama pesantren inilah, kemudian memunculkan gagasan perhimpunan Nahdlatul Ulama. Berawal dari pembentukan kepanitiaan yang akan dikirim ke Muktamar Islam se-Dunia. Kepanitiaan ini dinamakan Komite Hijaz. Pada musyawarah ulama pertama, (31/1/26) atau bertepatan 16 rajab 1344H, berdasarkan usulan dari KH. Asnawi, menghasilkan kesepakatan pembentukan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) yang berarti “Kebangkitan Para Ulama”. Dengan restu KH. Hasyim Asy’ari, organisasi ini terbentuk untuk menampung aspirasi para ulama dalam membela kepentingan umat Islam, bukan hanya di Indonesia, akan tetapi seluruh dunia. Melalui Komite Hijaz, terbitlah sebuah surat kesepakatan dan keputusan, yang kemudian KH. Wahab Chasbullah mentransmisikan pesan tersebut kepada Raja Saud. Hal itu ditujukan untuk mencegah penghancuran makam Nabi dan keluarga Nabi, oleh Raja Saud.

Atas  kegelisahan itulah, Nahdlatul Ulama lahir sebagai bentuk respon dalam menghadapi ketertindasan umat Islam, baik oleh penjajah, maupun Raja Saud di Hijaz. Bahkan Sepionase Jepang melaporkan terkait potensi dari kalangan Islam yang cukup diperhitungkan. Atas dasar itulah, 10 orang ulama mengusulkan untuk membentuk barisan sukarela kepada Sheiko Shikikan pada tahun 1943 (13/9) untuk bersiap memberikan pengorbanan demi kemenangan. Perang Asia Timur Raya ini juga merupakan Perang Suci bagi Islam.

Melihat situasi yang dialami front pertempuran Jepang semakin terpojok, akibat beberapa wilayah telah diduduki oleh pasukan sekutu, dan bersiap untuk menyerang. Maka pada tahun 1944,  terbentuklah pasukan khusus yang bernama Hizbullah (Tentara Allah), dengan komando resolusi jihad mempertahankan kedaulatan, melalui fatwa yang disepakati para ulama disebut Jihad fi sabilillah. Seruan resolusi jiad ini sangat fenomenal dengan slogan Hubbul whatan Minal Iman (cinta Tanah Air sebagian dari iman), menjadikan semangat dan moril dari kekuatan besar ulama-santri untuk berkonfrontasi dengan sekutu pada 10 november 1945, di Surabaya. Dalam pertempuran di Surabaya, laskar-laskar jihad Hizbullah dan Sabilillah di pimpin langsung oleh ulama besar, sosok  sekaliber KH. Hasyim Asy’ari, yakni KH. Abbas Abdul Jamil, dari Buntet Pesantren Cirebon, Jawa Barat.

Simpul ulama saling terkait melintasi generasi sejak era Walisongo di Nusantara. Perjuangan terus diupayakan oleh para ulama, khususnya Nahdlatul Ulama dan Pesantren, telah menandai kerja keras untuk kemerdekaan Republik Indonesia. Dalam perjalanannya, para ulama seperti KH. Abdul Wahid Hasyim dan H. Agus Salim, memberikan kontribusi besar bagi konstruksi falsafah Negara Kesatuan Republik Indoneisia, melalui kesepakatan Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia  (BPUPKI) dalam pembentukan ideologi bangsa ini, dipetik dari saripati butir-butir piagam Madinah, yang kini kita kenal dengan Pancasila dan UUD 1945.

Hari kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini merupakan momentum bagi kita untuk melanjutkan perjuangan para pendiri bangsa. Banyak yang memprediksi Indonesia menjadi salah satu negara paling kuat di dunia. McKinsey Global Institue misalnya, memprediksi Indonesia pada tahun 2012, menyebut Indonesia menjadi negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia pada tahun 2030.

Selanjutnya, kita cukup mempertahankan, apa yang sudah diperjuangkan oleh para ulama melalui jejaring dan simpul yang sudah terbangun. Berada di posisi manakah kita saat menjemput Indonesia Emas 2045? Apa masih dalam perdebatan receh? Tidak perlu lagi bicara utopis untuk mengembalikan pada sistem khilafah. Dengan catatan ini, tentu sebagai generasi penerus berpikir, bagaimana kita memberikan kontribusi untuk sesuatu hal yang positif secara komprehensif dalam memajukan Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Dirgahayu Republik Indonesia. Hadiah fatihah senantiasa kukirimkan untukmu para Syuhada. Merayakan kemerdekaan, bukan tanda untuk berhenti berjuang, tapi tanda untuk lebih keras  berjuang dalam kehidupan. Indonesia dengan bendera merah putihnya, serta lambang Garuda Bhineka Tunggal Ika, bukan sekadar nama dan simbol, ada kenangan, cinta dan juga luka kakek, nenek, dan buyut hanya untuk kita cucu-cucunya. Di atas Tanah ini kita bertualang, dan di tanah ini pula kita akan pulang.

Friday, 14 August 2020

Goyang Dombret Hizbut Tahrir

Oleh. M. Aminulloh RZ

Kang Dadang paling kasep
Saya suka akang, suka sekali
Bang Mandor paling ganteng
Saya demen akang, demen sekali

Ayo dong bang bergoyang
Biar saya temenin
Jangan lupa sawernya
Buat tambahan saya
Makin banyak sawerannya
Makin asik goyangannya


Promosi gerakan paham Islam transnasional Hizbut Tahrir melebarkan sayapnya ke seluruh penjuru dunia, seperti lirik lagu ‘goyang dombret’ pencipta Ukat S diatas. Dengan balutan agama yang menawan dan menarik perhatian, mereka merayu targetnya mengikuti gerakan yang sesekali membuat pening kepala orang yang melihatnya. Suara yang merdu bagai burung emprit, mereka mengajak sejumlah orang berpengaruh, baik pengusaha,  cendekiawan, profesor, doktor, mahasiswa dan lainnya. Ketika sudah bersatu dalam dogma goyangan sang biduan, maka dirinya seolah amnesia bahwa ia mempunyai latar belakang sebagai pengusaha, professor, bahkan doktor yang seharusnya menunjukkan jalan yang benar.

Tidak hanya itu, bahkan mereka berani mengorbankan harga diri dan karirnya, untuk sebuah perjuangan yang dilakukan bagi para penegak khilafah tersebut. Di permukaan bisa kita lihat ketika Prof. Suteki dicopot dari jabatannya oleh rektor sebagai Ketua Prodi Magister Ilmu Hukum dan Ketua Senat Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (28/10/18). Hanya karena menjadi saksi ahli dalam sidang gugatan HTI di PTUN Jakarta dan Judicial Review di Mahkamah Konstitusi pada bulan oktober 2017. Rektor Undip menganggap Prof. Suteki telah melanggar kedisiplinan dalam Aparatur Sipil Negara (ASN) yang sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010.

Jika sudah dalam lingkaran panggung percaturan politik Hizbut Tahrir, makai ia akan khilaf, bukan khilafah. Khilaf akan kebenaran. Otak geniusnya seolah telah tercengkeram erat oleh pendendang khilafah. Maka kita perlu waspada, jangan sampai tergoda jauh ke dalam pentas mereka, sebelum orang-orang terdekat kita menegur perilaku yang jauh dari akhlak seorang Muslim. Mengapa dikatakan demikian, sebab para penegak khilafah itu tidak memiliki akhlak yang baik. Para penegak khilafah tersebut sebetulnya tidak pernah menghormati dan menghargai para pejuang, pendiri bangsa, dan para syuhada, bahwa atas perjuangan merekalah kita bisa menikmati kedamaian saat ini.

Lebih dari itu, dibalik paham transnasional seperti Hizbut Tahrir, ada dana yang digelontorkan oleh negara-negara adidaya seperti Inggris dan AS. Saweran itulah yang membuat hingga hari ini, kita bisa menyaksikan aksi mereka pada momen politik, seperti pilkada dan pilpres. Menurut profesor ekonomi, Michel Chossudovsky yang ditulis pada artikel di laman Global Research, bahwa di permukaan, Hizbut Tahrir terlibat dalam aksi unjuk rasa di Suriah pada bulan maret 2011, hingga terus berkembang menjadi konflik sampai hari ini. Selain itu, Chossudovsky juga menulis kerjasama Hizbut Tahrir dengan intelejen Inggris M16 pada bulan mei 2011. Negara adikuasa akan mendanai jika ada sebuah pemikiran yang berbeda dari mayoritas.

Hizbut Tahrir juga terlibat pada penggulingan Muammar Khadafi, memprovokasi rakyat Libya, membuat sejumlah berita bohong seperti kerjasama Khadafi dengan Inggris dan Israel. Kenyataannya mereka sendiri yang didanai Inggris untuk menghancurkan Libya, yang pada saat itu menjadi negara terkaya dengan Gross Domestic Product (GDP) tertinggi di Afrika, subsidi yang besar untuk rakyat, pendidikan dan kesehatan gratis, menjadi satu-satunya negara yang tidak memiliki hutang, tidak tersentuh World Bank dan IMF, tingkat kejahatan paling rendah di Afrika, dan menjadi negara mandiri dengan mengelola sumber daya alamnya sendiri. Bahkan sejumlah ratusan pendemo Hizbut Tahrir di Indonesia, turut menyuarakan penggulingan pemimpin Libya tersebut pada hari senin, (28/03/11) di Bundaran Hotel Indonesia, Jl. MH Thamrin, Jakarta pusat.

Kata kuncinya adalah, bagaimana caranya fenomena tersebut tidak terjadi di Indonesia. Kalau terjadi, maka akan lebih parah dari apa yang terjadi di Timur Tengah dan Libya, karena di sini negara kepulauan, dan tanda-tanda perpecahan sudah terlihat nyata. Rogoh kocek untuk disawerkan kepada kelompok penegak khilafah juga sudah siap, walau tidak akan mudah, meskipun embrio-embrio sudah banyak tumbuh, dengan berlindung pada HAM, mereka bebas melakukan gerakan-gerakan dan aksi propaganda. Pekerjaannya sederhana, yang berbeda dengan pemahaman sistem mereka (khilafah) maka dihukumi sistem kafir. Hal ini akan menimbulkan konflik sosial yang berkaitan dengan keselamatan negara.

Jika sudah demikian, mestinya Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama dimodali negara untuk membenahi hal ini, karena mereka dengan pemikiran transnasionalnya dimodali oleh asing. Supaya para ulama mengurai kebekuan teologi hitam putih mereka, menjadi moderat dan seimbang antara agama, politik dan negara. Jadi tidak usah berkamuflase anti asing, sementara masih menerima saweran dari asing.

Thursday, 13 August 2020

Syahwat Kekuasaan Penegak Khilafah

 

Oleh. M. Aminulloh RZ

Ada sebuah petuah yang penulis ingat dari Penyair besar WS. Rendra, yaitu: “Politik adalah cara merampok dunia. Politik adalah cara menggulingkan kekuasaan, untuk menikmati giliran berkuasa.” Membicarakan politik adalah perbincangan yang selalu hangat, aktual dan tajam dalam perhelatan kekuasaan. Seperti kita saksikan bersama, banyak kasus kontroversi yang dilakukan oleh kelompok Hizbut Tahrir (HT), baik dalam negeri maupun luar negeri. Seperti kasus propaganda dan aksi mereka di Suriah pada tahun 2011.  Manuver HT menimbulkan peperangan antar saudara, saat ini masih berlangsung, dan belum tentu selesai 10 tahun yang akan datang.

Begitu juga yang terjadi di Libya, berawal dari provokasi yang dilakukan oleh HT. Di negeri kita juga dipenuhi dengan aksi dan propaganda ratusan massa HTI memadati Bundaran Hotel Indonesia untuk mendukung penggulingan Muammar Khadafi, senin (28/3/11).  Dalam hal ini, HTI hanya memerankan sebagai cheerleaders, turut mempropagandakan pelengseran kekuasaan yang sedang dilakukan oleh Hizbut Tahrir di Libya. Ironisnya, HTI merayakan dengan penuh kegembiraan atas tumbangnya Khadafi. Libya hancur dan negaranya porak poranda oleh koalisi milter NATO.

Sebagaimana kita ketahui, narasi yang digaungkan oleh HTI juga seringkali berdalih dakwah. HTI dengan berbagai kamuflase nama badan atau lembaga semenjak organisasinya resmi dibubarkan oleh pemerintah pada tahun 2017 lalu. Faktanya, Hizbut Tahrir berarti Partai Pembebasan Pan-Islamis yang bertujuan membentuk Khilafah Islam, daulah Islamiyah atau negara Islam. HT bercita-cita mengembalikan dan membentuk dunia Islam ke sistem kekhalifahan terdahulu. Ilusi sistem politik Khilafah didasarkan  pasca bubarnya kekhalifahan Turki Usmani pada tahun 1924.

HTI melakukan klaim-klaim dan memproduksi hoaks di media sosial dalam propagandanya. Seperti halnya bendera hitam putih yang sering mereka kibarkan dalam sejumlah aksi. Mereka mengklaim bendera itu sebagai bendera tauhid. Kenyataannya adalah Nabi Muhammad SAW tidak pernah membuat bendera seperti yang HTI gaungkan.

Bendera HTI bertuliskan kalimat tauhid seperti ISIS, Al-Qaeda, HAMAS, Taliban, Jabhat Al-Nusra, dan Saudi Arabia. Apakah mereka juga menganggap itu bendera yang Nabi kibarkan dahulu? Tentu saja itu hanya simbol organisasi atau kelompok, klaim dan bentuk kebohongan yang sangat terlihat secara kasat mata, apalagi mereka mengaku tidak memiliki bendera, padahal sudah sangat jelas, bendera yang kita lihat pada aksi-aksi mereka, adalah bendera HTI yang sesungguhnya. Demi meraih simpati dari kalangan umat Islam, sejumlah organisasi menggunakan kalimat tauhid sebagai simbol ambisi kekuasaannya. Karena tauhid itu sebaiknya ada dalam hati dan dzikir kita. Sebuah penistaan jika itu tersimbol  dalam bendera, kaos ataupun topi penutup kepala, bagaimana jika kalimat tersebut masuk ke toilet saat kita buang air besar? Atau saat berada di lantai bawah terinjak? Tidakkah mereka terpikir dalam otaknya bahwa sedemikian dihinakannya kalimat tauhid?. Bahkan ISIS yang punya bendera tauhid, dalam aksinya melakukan pembunuhan, pembantaian sesama Muslim, dan pembongkaran makam-makam para waliyullah.

HTI yang punya bendera tauhid juga melakukan kebohongan dan klaim yang diproduksi di medsos. Misalnya pada hari minggu (2/8/20) yang lalu, dalam talk show launching film Jejak Khilafah di Nusantara, mereka berani mencatut Prof. Peter Carey, sejarawan berkebangsaan Inggris, khususnya sejarah Jawa. Ia berasal dari Emeritus Fellow Trinity College Oxford Inggris. Di dalam video tersebut, penegak khilafah memaparkan potongan wawancara menanggapi peran Pangeran Diponegoro dalam perang di Jawa dan hubungannya dengan Turki Utsmani, melalui youtube Khilafah Channel. Pihak Prof. Carey tidak terima namanya dicatut tanpa adanya pemeberitahuan dari panitia. Fakta ini diklarifikasi oleh Feureau Himawan Susanto selaku asisten Prof. Peter Carey melalui kantor berita Antara. “Pihak Panitia sama sekali tidak menghubungi Prof. Peter soal diskusi tersebut, jadi sama sekali enggak kasih penjelasan apapun soal pemakaian video wawancara tersebut untuk diskusi.”

Pada titik ini, mereka tak segan memunculkan kebohongan, memproduksi hoaks dan klaim sepihak atas dasar agama. Bahkan pencatutan tokoh akademisi untuk melegetimasi sistem politik khilafah yang mereka dengungkan. Pekerjaan mereka adalah mengikuti tingginya birahi kekuasaan, yang semakin bergejolak dalam diri kelompok penegak khilafah. Dalam isu dan momen politik apapun, mereka bercokol di dalamnya, melakukan infiltrasi dalam lembaga dan masuk dalam isu aktual, dan yang sudah usang.

Aksi penegak khilafah akan menentang siapapun yang berkuasa, sebelum akhirnya kekuasaan jatuh ke tangannya. Tidak peduli siapa Presidennya, anggota DPR atau Menteri-menteri dalam kabinet apa, mereka akan tetap bersuara dan menjadi oposisi. Suara lantang mereka menandakan ambisi menggulingkan sistem sah dan dasar negara yang sudah disepakati oleh pendiri bangsa. Gemuruh teriakannya terdengar ke seluruh penjuru negeri ini, hingga mereka tidak sadar bahwa dirinya adalah seorang pengkhianat bangsa.

Dengan demikian, inilah salah satu sebab mengapa banyak orang yang alergi terhadap politik, dianggap kotor dan menjijikkan. Padahal, politik adalah satu jalan menuju kebaikan bersama. Penulis teringat ucapan Presiden Soekarno,“Apa yang sudah disepakati secara politik, jangan pernah diperdebatkan secara estetis.”

Bung Karno mengingatkan kita semua, agar hal-hal yang sudah menjadi kesepakatan para pendiri bangsa tidak perlu diperdebatkan lagi, lebih dari itu kita harus memberikan kontribusi pada hal-hal esensial, bukan membongkar bangunan yang sudah berdiri kokoh. Pancasila adalah dasar negara, NKRI adalah kedaulatan kita bersama yang wajib kita jaga dari ancaman syahwat kekuasaan HTI. Waspadalah terhadap gerakan penegak khilafah yang sangat membahayakan ideologi Bangsa.


Monday, 10 August 2020

Felix Siauw Kampanye HTI

 

Oleh. M. Aminulloh RZ

Indonesia sedang dalam ancaman. Orang yang berideologi khilafah di Indonesia semakin merebak pasca dibubarkan tahun 2017 yang lalu. Fakta tersebut berdasarkan penelitian Setara Institut pada tahun 2019, dengan banyak ditemukannya wacana dan gerakan keagamaan yang bersifat eksklusif. Dari 10 Perguruan Tinggi Negeri yang terpapar khilafahisme ala HTI, paling menonjol di Institut Pertanian Bogor (IPB). Mahasiswa dengan faham ideologi semakin hari semakin menguat.

Pada Survei Nasional yang dilakukan oleh Lembaga Survei Cyrus Network pasca-pemilu 2019, 4,7% responden menganggap bahwa khilafah merupakan ajaran Islam, dan menyetujui Indonesia menjadi khilafah. Dalam survei tersebut juga disebutkan 13,1% responden mengungkapkan Indonesia seharusnya berlandaskan syariat Islam. Direktur Lembaga Survei Cyrus Network mengatakan: “Karena merasa Islam agama mayoritas di Indonesia.”  Di Jakarta, jumat (9/8/19).

Selain itu, data survei juga menyebutkan, mayoritas responden, sebanyak 70,3% menerima Pancasila sebagai ideologi bangsa. Responden yang tidak menjawab atau menjawab tidak tahu sebanyak 11,8%.

Tokoh populer yang seringkali mengampanyekan khilafah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), salah satunya Felix Yanwar Siauw, atau dikenal dengan Ustaz Felix Siauw. Ustaz berdarah Tionghoa-Indonesia itu dikenal sebagai pendakwah khilafah HTI setelah menjadi mualaf yang selanjutnya dipanggil Ustaz.

Ustaz Gaul yang berasal dari Palembang itu, dilahirkan oleh keluarga Katolik. Ia memeluk agama Islam dan memepelajarinya Ketika melanjutkan studinya ke IPB pada tahun 2002. Dengan modal menulis buku tentang cerita mualaf dirinya, Felix sukses dalam penjualan buku dikalangan masyarakat Indonesia. Berkat tulisan dan bukunya, Felix diundang ke berbagai daerah untuk berceramah, bahkan sampai ke luar negeri.

Mulanya, Felix hanya berbicara soal bukunya. Namun, setelah menjadi ‘Ustaz Seleb’, ia banyak bicara permasalahan umat Islam. Bahkan, politik dan pemerintahan. Tidak hanya berceramah secara tatap muka, Felix juga mengampanyekan dakwah khilafahnya melalui media sosial. Statusnya acap kali membuat gaduh dunia maya, mengandung kontroversi, dan menimbulkan provokasi hebat, sehingga ada pergesekan di antara sesama Muslim.

Felix sengaja dimunculkan untuk menjadi salah satu icon HTI sebagai Ustaz, penceramah, pembicara dan motivator, untuk menjaring generasi Muslim milenial yang awam terhadap agama, kemudian Muslim muda tersebut direkrut menjadi anggota dan simpatisan HTI.

Felix Siauw terkenal di kalangan anak muda, melalui dakwah pendekatan kekinian, ia dapat mempengaruhi Muslim milenial, walaupun terkadang bicara nyeleneh bagi orang yang memahami disiplin ilmu agama.  Bagai seorang Ulama yang alim, Ustaz ini seringkali mengeluarkan “dawuh” yang menggelitik. Seorang mualaf dengan modal keilmuan agama seadanya, jauh dari apa yang disebut Ustaz. Ustaz berarti Guru, karena seorang Guru itu menjadi percontohan, panutan, berperilaku baik dan tidak mengadu domba. Ia  kerap mengeluarkan argumen ngawur. Bahkan terkadang berfatwa, laksana mujtahid yang begitu didengarkan dan dibenarkan oleh banyak pengikut milenialnya. Apakah seorang Ustaz seperti Felix ini pantas mengadu domba sesama umat seperti itu?

                Dalam satu waktu, umpamanya ia menulis status di akun sosial media twitter: “membela nasionalisme, enggak ada dalilnya.” (29/09/12). Ini adalah salah satu contoh Ustaz pemecah belah umat. Tidak memandang bagaimana efek grassroot ketika keurukunan dikoyak seperti itu. Sejarah membuktikan, Indonesia terlepas dari penjajahan karena semangat mencintai tanah air. Kita membela  tanah air, aset kebudayaan dan ekonomi bangsa seutuhnya kita miliki untuk anak cucu dimasa depan. Dalil jihad sudah terkandung di dalamnya. Tidak ada dalil Al-Quran atau hadis pun tidak serta-merta, tidak boleh dilakukan, dalam ilmu fiqih kita mengenal kata mubah.

Organisasi HTI sudah dilarang di Indonesia, megampanyekan khilafah juga sudah terlarang. Di era digital teknologi dan informasi membuat kita harus banyak memilih dan memilah Ustaz mana yang patut kita dengar, kita contoh, dan kita jadikan panutan dalam kehidupan sehari-hari. Masih banyak Ustaz yang seumur hidupnya mempelajari ilmu agama, dengan keilmuan yang tidak diragukan, seperti Gus Ulil Abshar Abdalla, Kyai Baha’udin (Gus Baha), dan lainnya.