Oleh.
M. Aminulloh RZ
Indonesia dalam kondisi bahaya. Selain ancaman
berupa pandemi covid-19, ada juga manuver eks-HTI kian mengkhawatirkan.
Pasalnya, khilafah adalah sebuah paham dengan memaksakan kehendak untuk
membongkar ideologi Pancasila yang sudah menjadi konsensus bersama, dan
mendirikan negara dengan sistem khilafah. Fakta tersebut disebutkan oleh
Rokhmat S. Labib pada tahun 2017: “Tidak Ada Alasan Menolak Khilafah” dalam
Majalah Al-Wa’ie (1/12). Hal tersebut yang membuat pejuang khilafah di
Indonesia terus melakukan propaganda, provokasi, dan menyulut kebencian
terhadap pemerintah.
Di tengah pandemi Covid-19 yang diderita
banyak negara, belum lama ini, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan
memberikan izin kepada sejumlah pemerintah daerah untuk menerapkan Pembatasan
Sosial Berskala Besarr (PSBB) (13/04/20). Terdapat sejumlah aturan dalam PSBB.
Misalnya, penutupan sejumlah tempat ibadah. Pejuang khilafah langsung bereaksi
dan memprovokasi narasi pemerintah anti Islam, masjid di tutup, mall dibuka,
dan lain sebagainya. Padahal MUI sendiri menyetujui langkah pemerintah terapkan
PSBB, Kompas (02/04/20). Dan mall sendiri
tetap beroperasi karena menyediakan layanan yang termasuk dalam 11 sektor
layanan yang dikecualikan dalam penerapan PSBB, termasuk kebutuhan pokok
seperti makanan dan obat-obatan. Republika,
selasa (19/5/20).
Pada saat new
normal diterapkan pemerintah pada 1 juni 2020, pejuang khilafah pun tetap
pada pekerjaannya dalam bentuk narasi pemerintah tidak hati-hati dalam
menangani Covid-19, tidak sayang pada rakyat dan lain sebagainya.
Ujung-ujungnya segala persoalan yang ada, solusinya khilafah. Paradigma dan
nomenklatur lama ini terus digelorakan demi kepentingan politik yang membuat
polarisasi di tengah masyarakat Indonesia.
Belum lama ini, ada sebuah gerakan dengan
mengatasnmakan pembela Pancasila, akan tetapi sesungguhnya terdapat agenda lain
yang justru sebaliknya, yakni mengubah ideologi negara. Aksi demonstrasi
menolak Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) pada rabu
(24/6/20) yang dihadiri oleh ratusan orang dan sejumlah ormas. Mereka
mengatasnamakan Aliansi Nasional Anti Komunis. Dari yang sebelumnya menentang
Pancasila, sekarang berbalik membela. Persoalannya adalah “aji mumpung”
momentum untuk aksinya yang perlu disorot.
Pada titik ini, sejumlah ormas yang hendak
mendirikan khilafah seperti eks-HTI dan Front Pembela Islam (FPI), akan tetap
terun menentang pemerintah, meski benar, apalagi salahnya. Karena tujuannya
tetap penerapan khilafah yang mereka kehendaki. Bahaya laten ini tentu tidak
bisa disepelekan, mereka hanya kelompok kecil, akan tetapi dengan suara
lantang, menganggap hanya mereka sajalah yang benar, sedangkan yang lain salah.
Kita harus tetap mewaspadai gerakan-gerakan baru khilafah yang
mulai mengimpresi publik dengan menggandeng sejumlah influencer yang memiliki banyak pengikut di media sosialnya. Tenaga
Ahli Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Lathifa Marina Al
Anshori mengatakan dalam sebuah dialog di bilangan Tomang, Jakarta Barat: “Saya
dapat info ada tokoh-tokoh yang cenderung mendukung didirikannya khilafah dan
setuju khilafah, mereka mendekati anak-anak muda dan influencer.” Jumat (24/7/20). Ini adalah bagian dari strategi baru
eks-HTI untuk mendulang paradigma lamanya dalam sosok tokoh-tokoh di media
sosial dan platform lainnya. Ketika kita menemukan sebuah narasi dari influencer mendirikan khilafah adalah hal
yang baik, maka hal itu perlu diwaspadai.
Dalam sebuah Forum Group Discussion (FGD) yang
diikuti sejumlah ormas di Jawa Timur, Sean Choir dari Islamic Center for
Democracy and Human Rights Empowerment (ICDHRE) Foundation mengatakan jika
berdasarkan hasil penelitian 17 juta generasi muda berani mengangkat senjata
demi mendirikan khilafah di Indonesia, Senin (23/9/19). Sasaran mereka adalah
anak milenial. Ini sinyal berbahaya yang patut kita waspadai bersama, terutama
para orang tua, agar menjaga anak-anaknya dari paham khilafah.
Selain kita juga harus menangkalnya dengan
narasi, dari semua elemen bangsa juga harus selalu bekerjasama untuk mengawasi
paham khilafah, kemudian melakukan langkah strategis dalam mencegah paham
khilafah. Sinergitas dari pihak aparat dan TNI juga diperlukan jika terbukti
mengusung paham khilafah, maka segera ambil tindakan preventif sebelum terjadi
sesuatu yang tidak diinginkan kita semua terjadi.

No comments:
Post a Comment