Oleh.
M. Aminulloh RZ
Apa yang dilakukan oleh Barisan Ansor
Serbaguna Nahdlatul Ulama (Banser NU) Bangil Pasuruan beberapa hari yang
lalu, melaporkan sebuah yayasan
pendidikan di Desa Kalisat, Kecamatan Rembang Kabupaten Pasuruan, di sebuah Yayasan pendidikan yang diduga sarang Hizbut Tahrir, sabtu (22/8/20) adalah tindakan
sangat tepat sasaran. Sebab jika tidak dilakukan tindakan prefentif seperti itu,
maka Hizbut Tahrir akan terus mendoktrin khilafah kepada anak-anak muda yang
mengenyam pendidikan di yayasan tersebut.
Hal itu
menandakan meski tidak digaji, baik oleh pemerintah,
maupun lembaga dan organisasi, Banser NU telah banyak berkontribusi bagi negeri
kita tercinta, khususnya agama Islam. Tidak hanya sekarang-sekarang ini, melainkan sudah berpuluh-puluh tahun lamanya
Banser NU turut andil besar dalam mempertahankan bangsa Indonesia dari berbagai
ancaman, baik yang siafatnya pertempuran fisik melawan penjajah, maupun perusak
ideologi dan kemajemukan.
Penulis jadi teringat cerita dari seorang ayah
teman penulis yang juga anggota Banser NU angkatan 1960-an, beliau turut serta
dalam memerangi orang-orang dan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) masa dahulu
pada tragedi 1965. Di mana situasi saat itu begitu “greget” katanya. Ia bersama
sahabat-sahabat Ansor yang lain memburu simpatisan PKI, dari mulai
markas-markas tempat berkumpulnya, jondol (gubuk-gubuk tongkrongan), ke
kebun-kebun, sampai ke dapur, toilet dan plafon rumah. “Di mana mereka
bersembunyi, maka kita pasti akan temukan”, ujarnya. Selain
memburu PKI, Banser NU juga selalu siap siaga di seputaran rumah para ulama dan
kiai untuk mencegah serangan dari anggota dan simpatisan PKI.
Atas tragedi yang lalu, dikemudian hari, KH.
Abdurrahman Wahid (Gus Dur) selaku ketua PBNU pada saat itu, meminta maaf
terhadap keluarga PKI yang menjadi korban dalam tragedi 1965. Hal ini pula yang
diamini oleh ayah teman penulis. “Kita harus banyak belajar dari sejarah masa
lalu agar tidak mudah terhasut adu domba sesama anak bangsa, kalau sekarang
sebelum ada tindakan ke orang-orang bughot macam HTI itu, kita harus minta doa
restu dari para kiai dulu, dan juga lapor ke aparat hukum”, katanya sambil
menyruput kopi panas yang baru saja dibuatkan oleh teman saya. Dan itulah yang
dilakukan oleh Banser NU saat ini dalam memerangi pejuang pro-khilafah.
Banser NU lebih dulu lahir sebelum TNI dan
Polri, bahkan Negara Kesatuan Republik Indonesia sendiri, dengan anggota
berkali-kali lipat dibanding TNI dan Polri. Anggota Banser jutaan
yang tersebar di seluruh Indonesia, tentu saja tidak diragukan lagi sumbangsih
dan kontribusinya bagi negeri ini. Meminjam kata-kata Gus Dur bahwa kurang
mulia apa Banser NU menjadi satpam negara sebesar Indonesia.
Direktur NU
Online Savic Ali menyampaikan pada Diklat Terpadu Dasar Banser, PAC GP
Ansor Kebayoran Lama, di Cilandak Jakarta Selatan, jumat-ahad (19/21/7), bahwa
tugas satpam dinilai berhasil bukan hanya karena ia sanggup melumpuhkan
penjahat. Tugas satpam dianggap berhasil karena wibawanya membuat penjahat
mengurungkan niat jahatnya. Meski tidak menggunakan senjata, Banser NU cukup bisa
mengantisipasi benalu yang bercokol di negeri ini, yang terus mengancam dan
menimbulkan konflik sosial di tengah kemajemukan.
Dalam menjaga toleransi antar umat beragama di
Indonesia, Banser NU sudah barang tentu menjadi garda terdepan, demi nama baik
Islam. Walaupun agama Islam terus dicoreng oleh kelompok takfiri. Banser NU
telah menunjukkan wajah Islam yang sesungguhnya, ramah, santun, dan turut
menjalin kerjasama antar umat beragama.
Fakta tersebut dapat kita lihat pada kejadian
pada tahun 24 Desember tahun 2000 lalu, ketika seorang pemuda Banser berusia 24 tahun
bernama Riyanto, menjadi martir dalam serangan teror bom di Jl. Kartini, No. 4
Gereja Eben Haezer, Mojokerto tepat saat
malam Natal, di mana kejadian tersebut juga bertepatan pada tanggal 20 ramadhan
1421 hijriah. Kejadian tersebut juga diabadikan dalam sebuah film yang
disutradarai oleh Hanung Bramantyo, ? (atau dikenal juga tanda tanya). Film ini rilis 10 tahun setelah tragedi tersebut pada
tahun 2011. Film ini dibintangi oleh artis ternama, seperti Reza Rahardian,
Revalina S. Temat, Rio Dewanto, Agus Kuncoro, dan artis lainnya.
Sampai saat ini, Banser NU menjadi garda
terdepan dalam menjaga ukhuwah wathaniyah di negeri ini, tanpa bayaran, tanda
jasa seperti prajurit, pujian, ataupun macam nominasi awards. Banser NU hanya
berharap kesadaran masyarakat untuk bersama-sama menjaga identitas bangsa yang
ramah dan santun, menjaga keharmonisan di tengah masyarakat dalam berbagai
perbedaan, dan menjaga ideologi bangsa ini dari rongrongan perusak agama Islam.
Dengan begitu, maka kita sebagai warga negara
Indonesia, senantiasa terus mendukung upaya-upaya prefentif Banser NU dalam
menyingkirkan benalu-benalu di negeri ini. Tidak lupa, penulis dari hati yang
paling dalam, mengucapkan banyak terimakasih yang sebesar-besarnya atas semua ikhtiar yang
dilakukan oleh Banser NU selama ini, baik sebagai penjaga dan pelayan para
ulama, maupun menjaga keberagaman di Tanah Air yang kita cintai ini, dengan penuh keikhlasan dalam
keterbatasan ekonomi.
Kita semua tidak dapat membalas
kebaikan-kebaikan Banser NU selama ini, hanya bisa mendoakan semoga GP Ansor
dan Banser NU selalu sehat walafiat sehingga tetap konsisten menjadi garda
terdepan dalam menghalau ideologi lain yang berusaha merongrong Indonesia. Dan
juga menjadi catatan amal ibadah dalam bentuk jihad di jalan Allah SWT. Amiin..
Ya Rabbal Alamiin..

No comments:
Post a Comment