Wednesday, 26 August 2020

Bedanya Agama, Aliran, dan Gerakan Politik

 

Oleh. M. Aminulloh RZ

Indonesia sudah berusia 75 tahun. Proses yang dilalui tentu sudah beberapa generasi yang telah melampaui dan melewati berbagai tantangan serta halangan yang menghadang. Dimulai dengan perbedaan pendapat mengenai sistem pemerintahan, hingga rongrongan intervensi asing di tengah jalan kemerdekaan. Tertulis di banyak buku-buku sejarah tentang bukti-bukti perlawanan radikalis Negara Islam Indonesia (1949-1962) dan Partai Komunis Indonesia (1914-1966) terhadap konsensus negara yang telah dibuat oleh para pendiri bangsa.

Bentuk dan sistem negara teokrasi, memang selalu menarik untuk dikaji dalam sebuah literatur dan diskusi ilmiah. Namun, tidak untuk diimplementasikan. Sebab akan menimbulkan masalah baru yang akan menjadi polemik di tengah masyarakat. Akan sangat mudah kita menyalakan api dalam sumbu yang di dalamnya terdapat bahan bakar, tapi akan sulit kita memadamkan api itu.

Di tengah perbedaan yang ada di Indonesia, sebetulnya masyarakat kita sudah memiliki tameng yang kuat dan kokoh terhadap api luar yang siap membakar kapan saja. Tameng itu adalah kemajemukan. Sejak zaman dahulu, masyarakat kita pada dasarnya tidak mudah untuk dipecah belah, baik oleh perbedaan suku, etnis, maupun agama.

Saat ini, tantangan Indonesia tidak begitu jauh dari radikalisme seperti dipaparkan pada alinea pertama, baik radikal secara gerakan, maupun pemikiran. Pada dasarnya persoalan tersebut cukup  sederhana, karena pemahaman yang keliru dan sempit mengenai keyakinannya. Masyarakat kita kurang memahami perbedaan yang ada, mana agama, aliran dan mana gerakan politik.

Agama adalah sistem yang mengatur kepercayaan. Agama merupakan ajaran suci dari Tuhan Yang Maha Kuasa, sekaligus etika moral, dan hukum dalam sosial budaya kehidupan manusia. Di Indonesia sendiri ada agama Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu, Konghucu, dan penganut kepercayaan.

Beberapa agama memiliki aliran dan perbedaan mazhab. Dalam hal ini, penulis memfokuskan tulisan ini pada berpedaan mazhab, aliran, dan gerakan politik dalam Islam. Aliran Yang paling mencolok adalah pertama, Syiah. Secara jamak, pengikutnya disebut Syi’i. Syiah mempunyai rujukan hadis tersendiri, seperti hadis Aisyah tidak dipakai, Abu Hurairah dll. Syiah juga mempunyai konsep imamah, satu komando, berpusat di Negara Repubik Islam Iran.

Yang kedua, Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Secara jamak, pengikutnya disebut Sunni. Aliran ini adalah firkah terbesar, mayoritas umat Islam di dunia beraliran ini. Aliran tersebut juga yang meyakini empat mazhab fiqih termasyhur, Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafii, dan Imam Hambali. Dari keempat madzhab tersebut, Imam Syafii paling banyak dianut oleh umat Islam di Indonesia. Ahlus Sunnah Wal Jamaah meyakini empat mazhab di atas, jadi, menurut Ahlus Sunnah Wal Jamaah perbedaan antar mazhab adalah sesuatu hal yang bukan fundamental bagi agama.

Yang ketiga, Wahhabiyah atau wahabisme.  Aliran ini merujuk pada teolog Muhammad bin Abdul Wahhab yang berasal dari Nejd, Arab Saudi. Aliran ini terkanal dengan ultrakonservatif, keras, puritan, selalu menyalahkan praktik seperti tahlil, bersalawat, maulid dan lain sebagainya. Wahhabi identik dengan Islam Arab Saudi, pola pikirnya adalah apapun yang tidak ada di Arab Saudi, maka tidak Islami, karena Nabi Muhammad SAW lahir, berjuang, dan wafat di sana. Padahal Islam memang lahir di Hijaz, akan tetapi jangkauannya rahmatan lil alamin.

Yang ketiga, Jamaah Tabligh. Aliran ini adalah sebuah gerakan dai atau mubaligh global yang berfokus pada praktik Islami ala Nabi. Seperti pakaiannya, ritual, perilaku dan lain sebagainya. Berkeliling dari masjid ke masjid, dengan membawa sejumlah peralatan masak, kitab, dan pakaian ganti. Aliran ini didirikan oleh Muhammad Ilyas al-Kandlhlawai dari India.

Yang keempat, ada Majelis Tafsir Al-Quran (MTA). Ini adalah aliran yang mengajak umat Islam untuk kembali ke Al-Quran, dari ayat langsung ke hukum, sesuai dengan namanya. Bedanya dengan tafsir Ahlus Sunnah Wal Jamaah dan pada umumnya adalah ijtihad. Daerah ijtihad asbabun nuzulnya bagaimana, haditsnya bagaimana, dan masholikhul mursalahnya bagaimana itu tidak dilakukan oleh MTA. Sedangkan Ahlus Sunnah Wal Jamaah, menggunakan metodologi ijtihad tersebut, kemudian dapat ditafsirkan, lalu menjadi sebuah hukum. Sehingga akan lebih valid dan dapat dipertanggungjawabkan tafsir serta hukumnya.

Yang kelima, Khawarij. Aliran ini sebelumnya adalah pengikut Ali bin Abi Thalib yang kemudian membelot dan melawan Ali. Oleh karena Ali bermusyawarah dengan Muawiyah. Khawarij berarti mereka yang keluar, keluar dari dinul Islam. Ciri-cirinya orang dengan pemahaman khawarij ialah suka mengkafir-kafirkan orang, terlebih pemerintah karena melakukan dosa-dosa besar, memberontak pada pemerintahan Muslim, dan menghalalkan darah serta harta kaum Muslimin. Ciri lainnya adalah dia tidak mau disalahkan, dan tidak mau menerima kebenaran orang lain. Tidak sepaham dengan apa yang dia yakini, maka akan dihukumi kafir, kalau sudah kafir, diapakan saja boleh, dibunuh, diambil hartanya dan lain sebagainya.

Yang kelima, Ahmadiyah. Aliran ini adalah sebuah gerakan Islam dibawa oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908) dengan tujuan mendakwahkan Islam ditengah perbedaan agama di India. Konon Mirza Ghulam Ahmad mengaku sebagai Mujaddid, al-Masih dan al-Mahdi.

Beberapa aliran mungkin banyak yang tidak tertulis, namun, intinya bukan pada hal itu, akan tetapi sekadar menjabarkan beberapa contoh aliran dalam Islam.

Selanjutnya adalah gerakan politik. Harus dipahami sebelumnya bahwa politik itu mempunyai tujuan kekuasaan atau bagi-bagi kekuasaan. Dalam agama Islam, kita dengan seluruh dunia apapun alirannya, itu bisa disebut Islam selagi salat masih menghadap kiblat. Sedangkan aliran itu pemahaman, pemikiran, teologi dan petunjuk menuju Tuhan Yang Maha Esa.  Namun, ada juga aliran yang bersatu dengan politik. Contohnya adalah gerakan Syiah. Syiah mempunyai dua kepala, yang satu bergerak  di lapangan atau  jihadis, yang satu lagi adalah konseptor, atau bisa disebut para ulamanya.

Hizbut Tahrir (HT) itu politik, bukan agama, dan juga bukan aliran. HT adalah sebuah gerakan politik pan-Islam yang bertujuan menguasai negara dengan sistem Khilafah Islamiyah. HT menganggap wajib bagi umat Islam mendirikan kekhalifahan Islam, padahal Nabi Muhammad SAW sendiri pada saat itu tidak mendirikan negara Islam. Selain itu ada juga Ikhwanul Muslimin (IM). IM terbagi dua kelompok. Kelompok yang pertama lebih halus gerakannya mengikuti sistem yang ada dalam sebuah negara. Seperti di Indonesia ada partai politik yang bertujuan mendirikan negara Islam. Kelompok yang kedua lebih ekstrem, membawa senjata seperti HAMAS di Palestina. 

Jadi pada intinya, kita harus memahami perbedaan antara Islam, Ahlus Sunnah Wal Jamaah, dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Islam itu agama, Ahlus Sunnah Wal Jamaah adalah aliran atau pemahaman, sedangkan Hizbut Tahrir adalah partai atau gerakan politik.

Dengan pemahaman seperti demikian, maka kita akan lebih moderat dalam memandang segala persoalan, terutama menyikapi perpolitikan di negara kita Indonesia. Kita dengan jernih bisa membedakan antara mana yang benar-benar substansi ajaran agama, aliran, dan gerakan politik. Ketiga-tiganya berbeda, tidak sama, dan tidak pula serupa.


No comments:

Post a Comment