Oleh. M. Aminulloh RZ
Ancaman perpecahan di Indonesia semakin terlihat. Eks-Hizbut
Tahrir Indonesia (HTI) kembali berulah dengan tingkah polanya yang selalu
memecah belah, dengan memanipulasi fakta sejarah melalui film ‘Jejak Khilafah
di Nusantara’ (JKDN) yang ditayangkan pada 1 muharam 1442, bertepatan jumat,
(20/8/20). Klaim dan doktrinisasi ini cukup meresahkan masyarakat.
Film tersebut menuai polemik hingga banyak tanggapan serius
dari para pakar sejarah, termasuk pakar Sejarah Modern Indonesia, utamanya
Jawa, Prof. Peter Carey dari Inggris, kembali membantah film yang sempat
mencatut Namanya itu. “Tidak ada bukti dan dokumen-dokumen di Arsip Turki
Utsmani yang menunjukkan bahwa ‘negara’ Islam pertama di Jawa, Kesultanan Demak
(1475-1558), utamanya raja pertamanya, Raden Patah (bertakhta, 1475-1518),
memiliki kontak dengan Turki Utsmani.” Katanya dalam tulisan yang disampaikan
oleh asistennya, Christopher Reinhart yang diterima detik.com jumat,
(21/8/20). Sebelumnya, eks-HTI sempat mencatut Prof. Peter Carey dalam video
launching film Jejak Khilafah di Nusantara, melalui live streaming youtube di
Khilafah Channel minggu, (2/8/20).
Tanggapan lain juga datang dari Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Azyumardi Azra, Menegaskan bahwa tidak ada khilafah di
Nusantara ini, yang ada adalah dinasti. “Mana ada jejeka khilafah dengan
Indonesia. Abbasiyah itu bukan khilafah, bukan dinasti, Ottoman juga dinasti.
Ini terjadi manipulasi fakta dan diromantikkan saja.” dalam keterangannya
secara tertulis, Sabtu (22/8/20), melalui indopolitika.com.
Jika kita lihat fakta sejarah, selepas era Khulafa
al-Rasyidin 660M, sistem dinasti dalam kekhalifahan di mulai ketika Hasan Bin
Ali dibaiat sebagai khalifah kelima oleh
Qois Bin Saad, komandan perang pasukan Ali Bin Abi Thalib yang diikuti oleh
seluruh penduduk Kufah. Sejak saat itulah mode pembaiatan khalifah secara
personal dan kemudian diikuti jamaah penduduk setempat di masjid, sebagai
format yang digunakan. Tidak ada lagi musyawarah secara demokratis seperti
zaman Nabi.
Bahkan kekuasaan Yazid bin Muawiyah, melalui mekanisme
penunjukkan oleh ayahnya. Hal tersebut telah melanggar kesepakatan antara Hasan
Bin Ali dengan Muawiyah bin Abu Sufyan, di mana seharusnya memakai mekanisme
dewan syura seperti yang dilakukan oleh Umar Bin Khattab saat memilih khalifah.
Muawiyah telah mengabaikan kesepakatan tersebut dengan menunjuk putranya
sendiri sebagai khalifah.
Saat Husein Bin Ali mendapat dukungan dari penduduk Kufah, kekhawatiran
Yazid dalam menghadapi oposisi kekuasaan dinastinya, ditunjukkan dengan
mengirim empat ribu pasukan yang dikomandoi oleh Umar bin Sa’d bin Abi Waqash untuk
mencegah Husein dari Makkah menuju Kufah di Karbala. Imam Suyuthi menulis dalam
Tarikh al-Khulafa: “Husein dibunuh dan kepalanya diletakkan di bejana
dan dibawa ke hadapan Ibnu Ziyad. Semoga Allah melaknat mereka yang
membunuhnya, begitu juga dengan Ibnu Ziyad dan Yazid. Husein telah dibunuh di
Karbala. Dalam peristiwa pembunuhan ini terdapat kisah yang begitu memilukan
hati yang tidak sanggup kita menanggungnya. Innaa lilahi wa innaa ilaihi
raajiun. Terbunuh bersama Husein 16 orang lainnya dari anggota
keluarganya.” Dinasti Yazid bin Muawiyah membunuh dengan kejam cucu terkasih
Rasulullah SAW. Buah hati Fatimah az-Zahro. Sungguh bengis dan kejam, jauh dari
ajaran Islam.
Dikatakan dalam film JKDN bahwa pada era dinasti
kekhalifahan Abbasiyah, tepatnya saat Khalifah Al Mustashim memimpin, pusat ibu
kota Baghdad diserang oleh pasukan Ilkhanate Mongol yang terjadi pada tahun
1258. Terjadi pengepungan dan penghancuran, dan keluarga bani Abbasiyah
berdiaspora ke nejd, negeri hijaz, termasuk ke Aceh. Kemudian Sultan Aceh baiat
ke ke khalifah yang ada di Timur Tengah. Klaim dan romantisme yang begitu
menarik demi mendulang dukungan. Yang jadi pertanyaan, mengapa imperium sebesar
Abbasiyah itu bisa hancur berkeping-keping oleh pasukan mongol? Bahkan khalifah
sendiri dibunuh. Ini adalah sebuah tragedi politik dinasti yang tetap mencoba
mempertahankan kekuasaannya dengan tidak memperhatikan pertahanan sebuah
negara.
Fakta sejarah tersebut tentu saja tidak bisa ditutup-tupi,
secara terang benderang bahwa kekuasaan politik dinasti khilafah pada contoh di
atas adalah dinasti tidak semulus yang mereka pikirkan, dan bukanlah solusi
terbaik seperti yang selalu dikampanyekan pejuang khilafah. Masih banyak contoh
tragedy-tragedi politik dan kekejaman serupa yang dilakukan oleh khalifah di
era khilafah. Kenyataan tersebut bukan lagi sebuah misteri dan rahasia bagi
umat Islam, jelas tertulis dalam tinta sejarah.

No comments:
Post a Comment