Oleh.
M. Aminulloh RZ
Ketua umum Jamiyyah Ahli Thariqah Mu’tabarah
An-Nadhdliyah (Jatman), sekaligus pemimpin Forum Ulama Sufi Sedunia atau
Al-Muntada Sufi Al ‘Alami, yang juga Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres),
Al-Habib Muhammad Luthfi bin Aly bin Yahya, dua tahun lalu dalam acara Muktamar
ke-XII Jatman, di Pekalongan, Jawa Tengah, menegaskan, bahwa mencintai Tanah
Air dan Bangsa, bukan suatu kesombongan, melainkan bentuk rasa syukur kita
terhadap Allah SWT. Dan Rasul-Nya.
Habib Luthfi dalam banyak tausiahnya, tak
henti-hentinya menitipkan pesan pada anak-anak muda Indonesia terkait
pentingnya merawat persaudaraan sesama anak bangsa, mencintai bangsa dan Tanah
Airnya, mengimplementasikan butir-butir Pancasila, melaksanakan UUD 1945, dan memelihara
toleransi antar umat beragama, sebagaimana semboyan kita, Bhineka Tunggal Ika,
serta senantiasa menjaga keutuhan negara.
Bahkan Habib Luthfi menyarankan, untuk menyanyikan
lagu nasional Indonesia Raya, tidak hanya saat upacara-upacara kenegaraan atau
pemerintahan saja, namun, lagu Indonesia raya juga harus dinyanyikan dalam
setiap acara-acara non formal, seperti acara sosial dan keagamaan. Jika itu
tidak dilakukan, maka boleh jadi generasi penerus kita akan lupa pada bangsa
dan negaranya sendiri.
Terlihat sepele dan sederhana, namun, sangat
penting untuk dilakukan, sebab dari hal yang terkecil seperti inilah akan
timbul rasa “handarbeni” (merasa memiliki) terhadap bangsa Indonesia. Kalau rasa
“handarbeni” itu telah mengikis di kalangan anak muda, maka akan semakin
merosot nasionalismenya.
Dalam webinar yang diadakan oleh Gerakan
Pemuda Islam Indonesia (GPPI), yang membahas tentang milenial yang sadar
digital untuk mengampanyekan Pancasila melalui media sosial, dengan diikuti
oleh puluhan mahasiswa, pada senin (10/8/2020). Zuhairi Misrawi atau lebih
akrab disapa Gus Mis, senada dengan beberapa pesan Habib Luthfi. Ia mengatakan,
“Harus ada persatuan diantara kita, kalau kita terpecah belah, kita tidak bisa
bersatu. Pancasila mengajarkan kita, untuk mendorong keadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia, anak-anak muda jangan Cuma jadi politisi, tapi isi
juga ruang-ruang intelektual lainnya.”
Sebagai intelektual muda Nahdlatul Ulama,
sekaligus youtuber dengan channel Islam Ramah TV itu, Gus Mis juga menekankan
pentingnya anak muda untuk terus belajar menulis, kemudian mengisi ruang-ruang
publik terkait perlunya mengkonter narasi-narasi khilafah.
Mengikisnya nilai-nilai Pancasila pada
anak-anak muda Indonesia cukup darurat. Fakta tersebut disampaikan oleh Menteri
Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu pada Tahun 2019 yang lalu. Riyamizard
memaparkan, 23,4% Mahasiswa setuju dengan jihad dan memperjuangkan negara Islam
atau khilafah. Untuk tingkat SMA sekitar 23,3%. Sedangkan untuk pegawai swasta
yang mengatakan tidak setuju ideologi Pancasila sebagai dasar negara, di angka
18,1%, dan Pegawai Negeri Sipil serta pegawai BUMN di angka sekitar 9,1%.
Dari presentase tersebut, boleh jadi sudah
meningkat sekarang ini, dan apabila paham-paham radikalisme itu masih terus
tumbuh, maka bukan tidak mungkin 20-30 tahun lagi negara ini akan luluh lantak,
seperti yang terjadi di Timur Tengah dan Afrika. Terutama pada paham khilafah
yang menginginkan negeri ini menjadi negara khilafah dan menghapus ideologi
Pancasila.
Jika anak-anak muda itu terus memelihara paham
khilafah, terus kemudian menjadi anggota TNI, aparat keamanan, dan mengisi
lembaga-lembaga negara yang memiliki peran sentral, insiden yang terjadi di
Timur Tengah juga bisa terjadi di sini. Mengangkat senjata, menumpahkan darah,
mengkudeta pemerintahan yang sah, saling bunuh dan perang saudara, akan semakin
nyata di depan mata.
Sejarah masa lalu, dalam berbagai literatur
mencatat bahwa anak muda siap menumpahkan darah demi kemerdekaan Indonesia,
berjuang demi masa depan anak cucunya melawan kolonialis Tanah Air tercinta,
bahkan Presiden Soekarno amat yakin terhadap pergerakan anak muda dalam
mempertahankan bangsa ini dari rongrongan penjajah, mengatakan, “Beri aku
seribu orang tua, niscaya akan kucabut gunung Semeru dari akarnya, dan beri aku
10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia.”
Tidak hanya itu, bangkitnya nasionalisme pada
pemuda Indonesia dahulu kala, diakibatkan ketertindasannya bangsa Indonesia
terhadap kolonialis. Makna nasionalisme tercermin sebagai simbol pergerakan
anak-anak muda Indonesia dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda pada tanggal 28
Oktober, yang setiap tahunnya kita peringati bersama. Sumpah Pemuda mengilhami betapa
mendalamnya nilai-nilai kepemudaan dalam menjaga bangsa ini dari
pengaruh-pengaruh ideologi luar yang mencoba merusak ideologi negara.
Seorang filsuf Yunani, Aristoteles memandang
pemuda adalah sosok penting dalam kerangka idealisme serta prinsipnya
menggawangi ideologi. Aristoteles mengungkapkan, suatu tahap seseorang yang
berada dalam masa remaja yang berpikir kritis serta berprinsip untuk
mempertahankan ideologi.
Oleh karenanya, Habib Luthfi terus menegaskan,
anak-anak muda Indonesia harus terus tumbuh mahabbah
(kecintaan) terhadap ideologi bangsa. Pancasila adalah kekuatan agama, terutama
pada butir yang pertama. Habib Luthfi juga menetapkan, bahwa Pancasila sudah final,
boleh berdebat penafsirannya, tapi tidak boleh mempersoalkan butir-butirnya.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan agar kita taat kepada
pemerintah. Ketika bangsa lain sudah fokus membangun peradaban, kita masih saja
memperberdebatkan persoalan khilafiyah-khilafiyah.
Habib Luthfi pun mengungkapkan bahwa Pancasila
melindungi pluralitas yang ada. Dengan Pancasila, maka akan semakin memperkokoh
nasional, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Karena Pancasila akan
selalu dimiliki oleh semua pihak. Jika nilai Pancasila meresap ke dalam sanubari
setiap anak bangsa, dan diperkuat oleh keimanan, maka akan terjalin kuat kesatuan
dan persatuannya. Dengan begitu, tidak akan mudah digoyahkan oleh ideologi
lain. Hal inilah yang akan menjadi cerminan bagi bangsa lain.
Kecintaan pada agama, Tanah Air, dan bangsa,
termaktub dalam Muktamar NU ke-27 di Situbondo, Jawa Timur, yang menegaskan Pancasila
sebagai asas tunggal negara, dan Jamiyyah Thariqah (Jatman) menetapkan Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai harga mati.
Pendakwah Islam zaman dahulu begitu toleran,
tidak anti terhadap kebudayaan dan tradisi lokal, sebagaimana Sunan Kudus yang
melarang menyembelih sapi pada hari raya Idul Adha, dan menggantinya dengan
kerbau, kuda, atau kambing, demi menghormati orang-orang Hindu di sekitarnya.
Demikian Habib Luthfi menyampaikan.
Dalam beberapa ceramahnya, Habib Luthfi juga
selalu berpesan kepada anak-anak muda, bahwa aliran-aliran di luar Ahlussunnah Wal Jamaah yang menolak
Pancasila sebagai ideologi negara, dan menganggap pemerintah tidak sah, perlu
diatasi. Untuk mengatasi gelombang aliran Islam yang demikian itu, penting
untuk ditekankan sosialisasi pemahaman Pancasila kepada anak-anak muda. Jangan
sampai pemuda bangsa ini menjadi radikal.
Sebagai anak muda, tentu patut kita bersyukur
kepada Allah SWT, Rasulullah SAW, para ulama, dan para pejuang negeri ini.
Bentuk rasa syukur kita, dapat diimplementasikan dan diwujudkan melalui kalimat
laa ilaa ha illallah dengan berbudi
luhur, serta membantu mendorong pemerintah dalam rangka menciptakan baldatun toyyibatun wa rabbun ghafur.

No comments:
Post a Comment